skip to main content

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Semarang Bagian Selatan)

Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Abstrak

Dalam perkembangan permukiman yang terjadi di wilayah Semarang Bagian Selatan yaitu kecamatan Gunung Pati, Tembalang dan Banyumanik secara langsung dipengaruhi oleh adanya perguruan tinggi dan para pedagang atau pekerja yang kemudian mendatangi kawasan tersebut. Selaian itu luasan lahan yang masih luas serta fasilitas yang akhirnya kecamatan-kecamatan tersebut dijadikan salah satu tempat untuk beraktifitas. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses evaluasi kesesuaian lahan yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak terhadap jalan utama dan gerakan tanah.

Dari analisis menggunakan metode AHP (Analitycal Hierarchy Process) menunjukan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 35,78 % untuk kemiringan lereng dan gerakan tanah, 10,80 % untuk jenis tanah, 8,33% untuk penggunaan lahan, 5,42 % untuk jarak terhadap jalan utama dan 3,89 % untuk curah hujan. Dari hasil overlay peta hasil skoring tersebut maka didapat lahan dengan luas 5101,10 (ha) atau sekitar 31,87 % sangat sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 3764,69 (ha) atau sekitar 23,52 % sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 2914,16 (ha) atau sekitar 18,21 % cukup sesuai untuk permukiman, lahan dengan luas 1287,36 (ha) atau sekitar 8,04% lahan kurang sesuai untuk permukiman dan lahan dengan luas 3012,56 (ha) atau sekitar 18,82 % tidak sesuai untuk permukiman.

 

Kata kunci: Permukiman, Analytic Hierarchy Process, Sistem Informasi Geografis, Kemiringan, Jenis Tanah.

 

Abstract

In residential developments that occurred in the area of Southren Semarang namely Gunung Pati, Tembalang and Banyumanik is directly influenced by the presence of colleges and traders or workers who later came to the region. Beside the land area that is still widespread, and the facilities are sub-districts eventually be one of the places to activities. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of land suitability evaluation in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, soil type, rainfall, distance to the main road and ground movement.
From the analysis using AHP (Analytical Hierarchy Process) showed much weight affect for each parameter of 35.78% for the slope and soil movement, 10.80% for the type of soil, 8.33% for the
landuse, 5, 42% of the distance to the main road and 3.89% for outpour of rainfall. From the results of the scoring overlay the map results obtained land with an area of 5101.10 (ha), or approximately 31.87% is very suitable for settlement, land with an area of 3764.69 (ha), or approximately 23.52% according to settlements, land with wide 2914.16 (ha), or approximately 18.21% is quite suitable for settlement, land with an area of 1287.36 (ha), or approximately 8.04% less land suitable for settlement and land with an area of 3012.56 (ha) or around 18.82% are not suitable.

Keywords: Settlement,
Analytic Hierarchy Process, Geographic Information System, Slope, Soil Type.

Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.