Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{JGUndip24390, author = {Handaru Suni and Bambang Yuwono and Andri Suprayogi}, title = {ANALISIS KETELITIAN DSM KOTA SEMARANG DENGAN METODE INSAR MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1}, journal = {Jurnal Geodesi Undip}, volume = {8}, number = {3}, year = {2019}, keywords = {Semarang, InSAR, Informasi Ketinggian}, abstract = { ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan semakin berkembang pula teknologi dalam bidang pemetaan. Terdapat banyak metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data elevasi, seperti pengukuran terestris yang menghasilkan peta kontur, fotogrametri, atau menggunakan metode pengindraan jauh khususnya dengan menggunakan citra radar dengan metode pengolahan InSAR. Metode InSAR selain dapat digunakan untuk pembuatan informasi ketinggian dapat juga digunakan untuk pembuatan peta deformasi (Pepe, A. dan Calo, F. 2017), identifikasi longsor (Kang, Y. dan Zhao, C, 2017), dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pengukuran GPS untuk pengamatan penurunan muka tanah (Yuwono, B, D, dkk. 2018). Informasi ketinggian (elevasi) dapat berupa tabel koordinat, peta kontur, ataupun model elevasi digital. Informasi ketinggian dapat diaplikasikan pada banyak hal, seperti : pembuatan peta jaringan sungai, analisis daerah rawan longsor, perencanaan jaringan jalan, pemetaan daerah rawan banjir, pembuatan peta deformasi, bahkan hingga keperluan militer. Kota Semarang sebagai salah satu kota pusat pemerintahan dan pusat industri di Pulau Jawa sangat membutuhkan data ketinggian untuk menunjang proses pengembangannya. Data ketinggian dapat digunakan untuk perencanaan tata guna lahan, manajemen drainase, jaringan air bersih, jaringan jalan, identifikasi daerah rawan bencana longsor di Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini didapatkan DSM dengan selisih ketinggian 0,148 meter sampai 203,558 meter dengan ketelitian 52,381 meter dengan standar deviasi 35,386 meter. }, issn = {2809-9672}, pages = {17--26} doi = {10.14710/jgundip.2019.24390}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/24390} }
Refworks Citation Data :
ABSTRAK
Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan semakin berkembang pula teknologi dalam bidang pemetaan. Terdapat banyak metode yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data elevasi, seperti pengukuran terestris yang menghasilkan peta kontur, fotogrametri, atau menggunakan metode pengindraan jauh khususnya dengan menggunakan citra radar dengan metode pengolahan InSAR. Metode InSAR selain dapat digunakan untuk pembuatan informasi ketinggian dapat juga digunakan untuk pembuatan peta deformasi (Pepe, A. dan Calo, F. 2017), identifikasi longsor (Kang, Y. dan Zhao, C, 2017), dan dapat dikombinasikan dengan metode lain seperti pengukuran GPS untuk pengamatan penurunan muka tanah (Yuwono, B, D, dkk. 2018). Informasi ketinggian (elevasi) dapat berupa tabel koordinat, peta kontur, ataupun model elevasi digital. Informasi ketinggian dapat diaplikasikan pada banyak hal, seperti : pembuatan peta jaringan sungai, analisis daerah rawan longsor, perencanaan jaringan jalan, pemetaan daerah rawan banjir, pembuatan peta deformasi, bahkan hingga keperluan militer. Kota Semarang sebagai salah satu kota pusat pemerintahan dan pusat industri di Pulau Jawa sangat membutuhkan data ketinggian untuk menunjang proses pengembangannya. Data ketinggian dapat digunakan untuk perencanaan tata guna lahan, manajemen drainase, jaringan air bersih, jaringan jalan, identifikasi daerah rawan bencana longsor di Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini didapatkan DSM dengan selisih ketinggian 0,148 meter sampai 203,558 meter dengan ketelitian 52,381 meter dengan standar deviasi 35,386 meter.
Article Metrics:
Last update:
View My Stats
Jurnal Geodesi Undip
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro