PEMETAAN RISIKO TANAH LONGSOR KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

*Sabda Lestari  -  Teknik Geodesi Universitas Diponegoro, Indonesia
Arief Laila Nugraha  -  Teknik Geodesi Universitas Diponegoro, Indonesia
Hana Sugiastu Firdaus  -  Teknik Geodesi Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 14 Dec 2018; Published: 7 Jan 2019.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 411 501
Abstract
Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah di provinsi Jawa Tengah yang termasuk dalam ketegori rawan bencana longsor. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang bencana yang sering terjadi di Kabupaten Semarang yakni berupa tanah longsor, kekeringan, angin puting beliung, dan banjir. Pada tahun 2016 telah terjadi 199 kejadian bencana yang rinciannya yaitu bencana kebakaran  40 kejadian, 87 bencana tanah longsor, 26 bencana banjir, 27 bencana angin putting beliung, dan 19 bencana lainnya. Pada tahun 2017 telah terjadi 327 kejadian bencana diantaranya yaitu 43 bencana kebakaran, 30 bencana angin puting beliung, 158 bencana longsor, 19 bencana banjir, 42 bencana kekeringan serta 35 bencana lainnya. Berdasarkan data kejadian bencana tahun 2016 dan tahun 2017 dapat dilihat bahwa kejadian bencana meningkat secara drastis terutama bencana longsor yang meningkat dari 87 kejadian menjadi 158 kejadian. Oleh sebab itu, maka dibutuhkan pemetaan risiko bencana tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Semarang. Pemetaan risiko bencana tanah longsor berbasis Sistem Informasi Geografis mengunakan software GIS dengan metode pembobotan dan tumpang susun (overlay) antar parameter penyusunnya.  Metode pembobotan pada pemetaan ancaman tanah longsor berdasarkan Permen PU No. 22/PRT/M/2007, pemetaan kerentanan dan kapasitas tanah longsor berdasarkan pada telaah dokumen dan pembuatan peta risiko menggunakan perkalian matriks VCA (Vulnerability Capacity Analysis) sesuai dengan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa wilayah dengan tingkat risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor seluas 7.329,831 Ha atau sebesar 7,20 % dari wilayah Kabupaten Semarang, kemudian seluas 21.785,920 Ha menunjukan tingkat risiko sedang atau sebesar 21,40 % dari wilayah Kabupaten Semarang dan seluas 64.561,798 Ha atau 63,43 % dari wilayah Kabupaten Semarang menunjukan risiko rendah, sedangkan sisanya yaitu seluas 8102,6 Ha atau 7,96 % wilayah Kabupaten Semarang tidak terkelaskan.
Keywords: Risiko, SIG, SNI, Tanah Longsor, VCA

Article Metrics: