KOREAN PHONOLOGICAL INTERFERENCE IN INDONESIAN LANGUAGE AS SECOND LANGUAGE

Reni Siti Yuniar

Abstract


Penggunaan struktur bahasa pertama sebagai kerangka saat mempelajari bahasa kedua adalah fase awal yang sangat mungkin terjadi dalam proses pembelajaran bahasa ke dua: tidak terkecuali pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari tahu titik lemah penutur bahasa Indonesia sebagai bahasa ke dua dengan fokus pada speech production. Peneliti menggunakan stimuli berupa gambar yang menghasilkan data pelafalan kata-kata oleh para pembelajar bahasa Indonesia (PBI) tadi: 54 kata yang terdiri dari 46 kata benda dan 8 kata sifat. Ke 54 kata ini direkam dan ditranskripsi secara fonetik. Dari 54 kata ini terjadi interferensi fonologis yang cukup signifikan dari fonologi Bahasa Korea. Yang pertama adalah dalam hal pembedaan voicing. Hal ini terjadi karena beberapa konsonan voiced dan voicedless yang dalam bahasa Indonesia merupakan fonem yang berbeda, ternyata merupakan alofon dalam Bahasa Korea. Yang kedua adalah proses penambahan bunyi schwa [ə] pada kata dalam bahasa Indonesia yang diakhiri dengan bunyi [s]. Hal ini tentu mengubah silabifikasi kata tersebut. Dalam bahasa Korea [s] tidak bisa menjadi koda, sehingga strategi pembelajar Bahasa Korea ini adalah dengan menambahkan bunyi tersebut pada posisi koda, sehingga merubah silabifikasi kata tersebut dalam bahasa Indonesia. Dari kajian literatur yang ada, ternyata strategi yang sama juga diaplikasikan pada saat mereka mempelajari Bahasa Inggris. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa paling tidak dua jenis interferensi fonologi inilah yang patut menjadi perhatian bagi penutur asli Bahasa Korea saat mereka mempelajari Bahasa Indonesia.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.