Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{EMPATI7517, author = {Lalu Rozika and Yohanis Kahija}, title = {MAKNA CERITA DEWI RENGGANIS BAGI PENEMBANG SERAT MENAK DI PULAU LOMBOK}, journal = {Jurnal EMPATI}, volume = {3}, number = {2}, year = {2014}, keywords = {makna Cerita Dewi Rengganis, tradisi pepaosan, Serat Menak, penembang.}, abstract = { Penelitian ini bertujuan menggambarkan seperti apa penembang Serat Menak (SM) di pulau Lombok memaknai teks Cerita Dewi Rengganis (CDR). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Subjek penelitian berjumlah tiga orang penembang yang semenjak usia kanak-kanak telah mulai mengenal tradisi pepaosan dan SM. Metode utama yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam, sedangkan metode pendukungnya adalah observasi, catatanlapangan, dan materi audio. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa makna CDR bagi penembang SM di pulau Lombok digambarkan dengan empat tema induk, yaitu (1) memaknai tokoh Rengganis, (2) nilai yang terdapat dalam CDR, (3) kemanfaatan CDR, dan (4) memaknai perpisahan. Setelah memahami isi kandungan dalam CDR, subjek mengamalkannya di dalam kehidupannya. Hasil penelitian mendapatkan bahwa makna CDR bagi pemaos yakni sebagai suara hati ( conscience ). Saran untuk peneliti selanjutnya, yakni agar mampu menemukan literatur yang lebih lengkap mengenai tradisi pepaosan , SM, dan CDR, mengingat penelitian terhadap sastra lisan dan tulisan di pulau Lombok dapat dikatakan masih minim. }, issn = {2829-1859}, pages = {228--237} doi = {10.14710/empati.2014.7517}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/7517} }
Refworks Citation Data :
Penelitian ini bertujuan menggambarkan seperti apa penembang Serat Menak (SM) di pulau Lombok memaknai teks Cerita Dewi Rengganis (CDR). Metode penelitian yang digunakan yaitu metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Subjek penelitian berjumlah tiga orang penembang yang semenjak usia kanak-kanak telah mulai mengenal tradisi pepaosan dan SM. Metode utama yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam, sedangkan metode pendukungnya adalah observasi, catatanlapangan, dan materi audio.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa makna CDR bagi penembang SM di pulau Lombok digambarkan dengan empat tema induk, yaitu (1) memaknai tokoh Rengganis, (2) nilai yang terdapat dalam CDR, (3) kemanfaatan CDR, dan (4) memaknai perpisahan. Setelah memahami isi kandungan dalam CDR, subjek mengamalkannya di dalam kehidupannya. Hasil penelitian mendapatkan bahwa makna CDR bagi pemaos yakni sebagai suara hati (conscience). Saran untuk peneliti selanjutnya, yakni agar mampu menemukan literatur yang lebih lengkap mengenai tradisi pepaosan, SM, dan CDR, mengingat penelitian terhadap sastra lisan dan tulisan di pulau Lombok dapat dikatakan masih minim.
Article Metrics:
Last update:
The authors who publish in the Jurnal Empati retain full copyright ownership (Copyright@Author) of their work. In keeping with the journal’s commitment to open access, all articles are published under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).
Jurnal EMPATI published by Faculty of Psychology, Diponegoro University