skip to main content

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN BURNOUT PADA GURU SLB C DI KOTA SURAKARTA

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia

Open Access Copyright 2021 Jurnal EMPATI under http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara kecerdasan emosional dengan burnout. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk menyadari dan mengatur emosi diri serta menyadari emosi orang lain. Burnout merupakan keadaan kelelahan yang ditandai dengan kelelahan emosional, depersonalisasi, dan kurangnya pencapaian pribadi akibat situasi yang menuntut secara emosional dalam jangka panjang. Guru yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan mengurangi resiko terkena burnout. Populasi dalam penelitian ini yaitu Guru SLB C di Kota Surakarta yang berjumlah 66 guru. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive Sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu Skala Kecerdasan Emosional (34 aitem, α= 0,954) dan Skala Burnout (29 aitem, α= 0,962). Berdasarkan uji korelasi Spearman’s Rho didapatkan rxy=-0,803 dengan sig. 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan burnout. Semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki, maka semakin rendah burnout yang dialami dan semakin rendah kecerdasan emosional yang dimiliki, maka semakin tinggi burnout yang dialami.

 

Fulltext View|Download
Keywords: Kecerdasan Emosional, Burnout, Guru, SLB C

Article Metrics:

  1. Adawiyah, R. A. B. (2013). Kecerdasan emosional, dukungan sosial, dan kecenderungan burnout. Jurnal Psikologi Indonesia, 2(2), 99-107. Diunduh dari https://media.neliti.com/media/publications/156927-ID-kecerdasan-emosional-dukungan-sosial-dan.pdf
  2. Aufa, A. (2014). Upaya preventif guru bimbingan dan konseling terhadap terjadinya burnout. Jurnal Hisbah, 11(1), 1-14. Diunduh dari ejournal.uin-suka.ac.id/dakwah/hisbah/article/view/150/144
  3. Avionela, F. & Fauziah, N. (2016). Hubungan antara kecerdasan emosi dengan burnout pada guru berstratifikasi di SMA Negeri Kecamatan Bojonegoro, Jurnal Empati, 5(4), 687-693. Diunduh dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/15440
  4. Desiningrum, D. R. (2016). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Psikosain
  5. Ferlia, D. A., Jayanti, S. & Suroto. (2016). Analisis tingkat stres kerja pada guru tunagrahita di sekolah dasar luar biasa (SDLB) Negeri Purwosari Kudus. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(3), 331-341. Diunduh dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/article/view/13037/12595
  6. Fink, G. (2016). Stress : Concept, Cognition, Emotion, and Behavior. London : Elsevier. Diunduh dari https://www.elsevier.com/books/stress-concepts-cognition-emotion-and-behavior/fink/978-0-12-800951-2. Goleman, D. (2009). Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
  7. Khoiriyah, D. & Khaerani N. S. (2015). Peran emosi positif pada guru slb tunagrahita. Psikologika, 20(1), 7-26. Diunduh dari https://journal.uii.ac.id/Psikologika/article/view/7707/6701
  8. Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Jilid Kedua. Depok: LPSP3
  9. McCommack, N. & Catter, C. (2013). Managing Burnout in Workplace. Diunduh dari https://www.sciencedirect.com/book/9781843347347/managing-burnout-in-the-workplace
  10. Mérida-López, S. & Extremera, N. (2017). Emotional intelligence and teacher burnout : A systematic review. International Journal of Education Research, 85, 121-130. DOI : 10.1016/j.ijer.2017.07.006
  11. Mulyana, E. H. (2010). Guru berkualitas : Profesional dan cerdas emosi. Jurnal Saung Guru, 1(2), 1-11
  12. Puluhuwala, C. W. (2013). Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual meningkatkan kompetensi sosial seorang guru. Makara Seri Sosial Humaniora, 17, 139-147. DOI : 10.7454/mssh.v17i2.xxxx
  13. Sari, I. K. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout perawat di RSUD Haji Makassar Tahun 2015. Skripsi, Makassar : UIN Alauddin Makassar. Diunduh dari http://repositori.uin-alauddin.ac.id/4803/
  14. Tongam, I. & Yusuf, Y. (2017). Peran guru terhadap anak penyandang tunagrahita ditinjau dari kinerja kompetensi guru. JOM Fisip, 4(2), 1-13. Diunduh dari https://media.neliti.com/media/publications/205456-peran-guru-terhadap-anak-penyandang-tuna.pdf. Goleman, D. (2009). Emotional intelligence why it can matter more than iq. New York: Bloomsbury

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.