Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{EMPATI28960, author = {I Gusti Purwatamashakti and Yeniar Indriana}, title = {PENGALAMAN MENJADI AGNOSTIK DI INDONESIA SEBUAH PENDEKATAN INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS (IPA)}, journal = {Jurnal EMPATI}, volume = {9}, number = {4}, year = {2020}, keywords = {agnostik; pengalaman}, abstract = { Eksistensi Tuhan dan agama yang selalu menjadi perdebatan sepanjang sejarah umat manusia melahirkan berbagai pandangan yang berbeda, salah satunya adalah agnostisisme. Indonesia sebagai negara berketuhanan dengan enam agama yang diakui serta adanya aturan pencantuman status agama dalam data identitas ternyata masih dijumpai individu yang memilih menjadi agnostik. Keberadaan kaum agnostik yang ada di Indonesia menjadi fenomena yang cukup unik untuk ditelusuri. Penelitian ini menambahkan literatur yang ada dengan tujuan mengeksplorasi dan memahami pengalaman menjadi agnostik di Indonesia. Partisipan berjumlah tiga orang yang mengungkapkan dirinya sebagai agnostik dan dipilih dengan teknik purposive sampling . Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur. Transkrip wawancara kemudian dianalisis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Tema superordinat yang ditemukan mencakup (1) keberagamaan lewat ibadah, (2) konflik dalam keberagamaan, (3) kebimbangan akan Tuhan dan agama, (4) upaya memahami Tuhan dan agama, (5) penolakan terhadap Tuhan dan agama, (6) agnostik sebagai kebebasan, (7) dinamika respons sosial, (8) pengambilan keputusan setelah belajar, dan (9) landasan agama yang kurang. Ketiga partisipan menunjukkan pengalaman dalam menjadi agnostik di Indonesia yang beragam di aspek kehidupannya. }, issn = {2829-1859}, pages = {313--319} doi = {10.14710/empati.2020.28960}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/28960} }
Refworks Citation Data :
Eksistensi Tuhan dan agama yang selalu menjadi perdebatan sepanjang sejarah umat manusia melahirkan berbagai pandangan yang berbeda, salah satunya adalah agnostisisme. Indonesia sebagai negara berketuhanan dengan enam agama yang diakui serta adanya aturan pencantuman status agama dalam data identitas ternyata masih dijumpai individu yang memilih menjadi agnostik. Keberadaan kaum agnostik yang ada di Indonesia menjadi fenomena yang cukup unik untuk ditelusuri. Penelitian ini menambahkan literatur yang ada dengan tujuan mengeksplorasi dan memahami pengalaman menjadi agnostik di Indonesia. Partisipan berjumlah tiga orang yang mengungkapkan dirinya sebagai agnostik dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur. Transkrip wawancara kemudian dianalisis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Tema superordinat yang ditemukan mencakup (1) keberagamaan lewat ibadah, (2) konflik dalam keberagamaan, (3) kebimbangan akan Tuhan dan agama, (4) upaya memahami Tuhan dan agama, (5) penolakan terhadap Tuhan dan agama, (6) agnostik sebagai kebebasan, (7) dinamika respons sosial, (8) pengambilan keputusan setelah belajar, dan (9) landasan agama yang kurang. Ketiga partisipan menunjukkan pengalaman dalam menjadi agnostik di Indonesia yang beragam di aspek kehidupannya.
Article Metrics:
Last update:
The authors who publish in the Jurnal Empati retain full copyright ownership (Copyright@Author) of their work. In keeping with the journal’s commitment to open access, all articles are published under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).
Jurnal EMPATI published by Faculty of Psychology, Diponegoro University