skip to main content

HUBUNGAN ANTARA OTONOMI KERJA (WORK AUTONOMY) DENGAN KEBAHAGIAAN KERJA (HAPPINESS AT WORK) PADA PENGRAJIN KAIN BATIK TULS DI PAGUYUBAN GIRILOYO YOGYAKARTA

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat hubungan antara work autonomy dengan happiness at work pada pengrajin kain batik tulis di Paguyuban Giriloyo Yogyakarta. Work Autonomy  merupakan suatu tingkat dimana suatu pekerjaaan dapat memberikan kebebasan, kemandirian, keleluasaan dalam menjadwalkan pekerjaan, dan keleluasaan dalam memilih metode ataupun cara yang akan digunakan untuk menjalankan pekerjaanny. Happiness at work merupakan suatu keadaan yang didalamnya terdapat perasaan positif yang membuat karyawan menjadi lebih loyal, kreatif, produktif, termotivasi, percaya diri serta mengelola dan memaksimalkan kerjanya. Populasi pada penelitian ini adalah 120 pengrajin kain batik tulis di Paguyuban Giriloyo Yogyakarta dan subjek didalam penelitian ini sebanyak 65 orang pengrajin batik. Teknik didalam penelitian ini menggunakan convenience sampling. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala work autonomy (8 aitem, α =0,189 ) dan skala happiness at work (38 aitem, α = 0,159). Hasil analisis data di uji menggunakan uji Spearman’s Rho dengan menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,510 dan p = 0,000 ( p < 0,05). Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan antara work autonomy dengan happiness at work. Semakin positif work autonomy maka semakin tinggi happiness at work, begitu juga sebaliknya.

Fulltext View|Download
Keywords: Work Autonomy, Happiness at Work, Pengrajin batik tulis

Article Metrics:

  1. Diener, E. (2000). Subjective well-being. American Psychologist, 55, 34-43
  2. Diener, E., Diener, C. (1996). Most people are happy. Psychological Science, 96, 181-185
  3. Fisher. C. D. (2010). Happiness at work. International Journal of Management Reviews 12 (4),384-412
  4. Hackman, J. R., & Oldham, G. R. (1975). Development of the job diagnostic survey. Journal of Applied Psychology, 60, 159-170
  5. Hakim, L., & Septarini, B. G. (2014). Hubungan antara Otonomi Kerja dengan Kebahagiaan Kerja pada Industri Kreatif. Jurnal Psikologi Industri dan Organisasi, Volume 03, 01, April 2014
  6. Halim, M., & Atmoko, W. (2005). Hubungan antara kecemasan akan HIV/AIDS dan psychological well-being pada waria yang menjadi pekerja seks komersial. Jurnal Psikologi, 15(1), 1-31
  7. Harter, J. K., Schmidt, F. L., & Keyes, C. L. M. (2002). Well-being in the workplace and its relationship to bussiness outcomes: A review of the gallup studies. In C. L. Keyes & J. Haidt (Eds.). Flourishing: The Positive person and the good Life (pp. 205-244). Washington: American Psychological Association
  8. Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2012).Rencana strategis 2012-2014 Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. April 2012.(NoPM.35/UM.001/MPEK/2012). Jakarta
  9. Murniati, D. E. (2009). Peran Perguruan Tinggi dalam Triple Helix Sebagai Upaya pengambangan Industri Kreatif. Seminar Nasional Peran Pemdidikan Kejujuran Dalam Pengembangan Industri Kreatif. Jurusan PTBB FT UNY
  10. Pratama. R. A. (2015). Wah 73% karyawan tidak bahagia dengan pekerjaannya. http://manajemen.bisnis.com/read/20150806/56/459979/wah...73-karyawan-tidak-bahagia-dengan-pekerjaannya. Di akses pada 1 Februari 2018 Rahayu, Puji.(2014). Eksistensi Kerajinan Batik Tulis dengan Pewarnaan Alam.Jurnal Candi - Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 4
  11. Ryan, R.M., Huta, V., &Deci, E. L. (2008). Living well : A self-determination theory perspective on eudainonia. Journal of Happiness Studies, 9, 139-170
  12. Setiati, D. H.(2007). Membatik Yogyakarta. PT. Macanan Jaya Cemerlang
  13. Wright, T. A., Corpanzano, R., & Bonett, D. G. (2007). The moderating role employee positive well being on the relation between job satisfaction and job performance. Journal of Occupational Health Psychology, 12, 93-104

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.