skip to main content

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI GAYA KEPEMIMPINAN RESONAN DENGAN BURNOUT PADA ANGGOTA KEPOLISIAN BRIGADIR MOBIL (BRIMOB) DETASEMEN A PELOPOR SUBDEN 2 SEMARANG

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia

Received: 26 Mar 2019; Published: 26 Mar 2019.

Citation Format:
Abstract

Instansi Kepolisian selalu melakukan pergantian pemimpin yang berlangsung setiap periode kepemimpinan. Setiap calon pemimpin memiliki gaya dalam memimpin masing-masing. Salah satu tipe gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan resonan dimana pemimpin mampu menggerakan orang-orang dikelompoknya dengan penuh gairah, kekuatan, ketegasan, dan empati. Persepsi negatif anggota akan gaya kepemimpinan resonan menjadikan stresor di lingkungan kerja yang menjurus terjadinya burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi gaya kepemimpinan resonan dengan burnout pada anggota Kepolisian Brigadir Mobil (Brimob) Detasemen A Pelopor Subden 2 Semarang. Subyek penelitian ini berjumlah 136 anggota. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Resonan (32 aitem, α = 0,943) dan Skala Burnout (28 aitem,    α = 0,919) yang diujikan kepada 100 anggota. Analisis Spearman Rho menunjukan nilai rxy= -0,715 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan antara persepsi gaya kepemimpinan resonan dengan burnout. Artinya semakin positif persepsi gaya kepemimpinan resonan di instansi tersebut maka akan semakin rendah burnout yang dialami anggota kepolisian.

Fulltext View|Download
Keywords: gaya; kepemimpinan; resonan

Article Metrics:

  1. Boyatzis, R. & McKee A. (2010). Resonant leadership. Jakarta: Penerbit Erlangga
  2. Freedheim, D, K. & Weiner, I. B. (2003). Handbook of psychology vol.1. Hoboken: Welley J. & Inc, S
  3. Hatta, R. H., Noor, H. H. (2015). Hubungan antara hardiness dengan burnout pada anggota polisi pengendali massa (dalmas) polrestabes bandung. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, 124-129
  4. Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2002). Undang-Undang Republik Indonesia No.2
  5. Nakano, W.U., dkk. (2013). Nationwide survey of work environment, work-life balance and burnout among psychiatrists in japan. Umene-Nakano Japan,8(2), 1-8. doi: 10.1371/journal.pone.0055189
  6. Pierce, J. L. & John, W. N. (2006). Leaders & the leadership process. New York: McGraw-Hill International Education
  7. Satria, R. (2015). Transformasi baharkam polri 2019. Diunduh dari https://kepolisian.wordpress.com/category/polri-dan-kepercayaan-masyarakat/
  8. Schafer, J.A. (2010). Effective leaders and leadership in policing: traits, assessment, development, and expansion. Journal of Department of Criminology & Criminal Justice, Southern Illinois University Carbondale, Illinois,33(4), 644-663. Doi 10.1108/13639511011085060
  9. Schaible, L. M. & Gecas, V. (2010). The impact of emotional labor and value dissonance on burnout among police officer. Police Quarterly, 13(3) 316-341. doi: 10.1177/1098611110373997
  10. Schultz, D. & Schultz S. E. (2006). Psychology & work today. United States of America: Pearson Education, Inc
  11. Sukmana, O. (2003). Dasar-dasar psikologi lingkungan. Malang: UMM Press
  12. Yulihastin, E. (2008). Bekerja sebagai polisi. Jakarta: Erlangga

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.