skip to main content

PENGALAMAN MENIKAH PADA PRIA DI MASA BERANJAK DEWASA

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami pengalaman menikah pada pria di masa beranjak dewasa (emerging adulthood) dengan keluarga yang dapat bertahan atau tidak berujung pada perceraian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumen. Subjek penelitian berjumlah tiga orang dengan menggunakan teknik purposive. Kriteria untuk subjek penelitian antara lain: laki-laki yang menikah di usia 18 – 25 tahun; tidak melakukan hubungan seks pra nikah; dan saat menikah belum mandiri secara finansial, kini telah mandiri secara finansial, dan usia pernikahan minimal lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman menikah pada pria dipengaruhi oleh faktor lingkungan (circumstance), beliefs, preferences, dan emotions. Faktor-faktor tersebut yang pada akhirnya membentuk sebuah decision making untuk menikah, khususnya faktor circumstance dan beliefs. Proses menuju pernikahan meliputi pengambilan keputusan menikah, persiapan pernikahan dan proses menemukan pasangan. Ketiga subjek menggunakan konsep ta’aruf dalam menentukan pasangan hidup. Pasca menikah terjadi penyesuaian pasangan dan keluarga yang dilakukan dengan pendekatan personal dan ilmu pernikahan. Dari penelitian ini menunjukkan pria yang menikah di masa beranjak dewasa mampu membentuk keluarga yang kokoh dan fungsi keluarga dapat terpenuhi.

Fulltext View|Download
Keywords: pengalaman; pernikahan pada pria; beranjak dewasa

Article Metrics:

  1. Adhim, M. F. (2006). Indahnya pernikahan dini. Jakarta: Gema Insani
  2. Akhmadeeva, E. (2013). Motives for choosing civil marriages by modern young people. Social and Behavioral Sciences , 339-342
  3. Astuti, L. D., & Syartiqa, S. (2014, 29 Agustus). Deretan kisah seleb nikah muda lalu cerai. Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
  4. bps. (2011, 1 November). Sensus penduduk 2010. Diakses pada 12 November, 2016, diunduh dari Badan Pusat Statistik: http://sp2010.bps.go.id
  5. Cohen, S. (2004). Test anxiety and its effect on the personality of students with learning disabilities. Journal of Learning Disability Quarterly , 176-184
  6. Creswell, J. W. (2014). Penelitian kualitatif & desain riset. Yogyakarta: Pustaka Belajar
  7. jatik.com. (2016, 16 Oktober). Kisah nyata nikah muda berkah, sungguh inspiratif! Bogor, Jawa Barat, Indonesia
  8. Kahija, Y. L. (2017). Penelitian fenomenologis: jalan memahami pengalaman hidup. Yogyakarta: PT Kanisius
  9. Kertamuda, F. E. (2009). Konseling pernikahan untuk keluarga indonesia. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
  10. Khairani, R., & Putri, D. E. (2008). Kematangan emosi pada pria dan wanita yang menikah muda. Jurnal Psikologi Volume 1 no 2
  11. Prastowo, A. (2011). Metode penelitian kualitatif dalam perspektif rancangan penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
  12. Santrock, J. W. (2012). Life-span development, perkembangan masa hidup. Jakarta: Erlangga
  13. Sari, F., & Sunarti, E. (2013). Kesiapan menikah pada dewasa muda dan pengaruhnya terhadap usia menikah. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konseling , 143-153
  14. Sarwono, S. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika
  15. Sohn, K. (2016). Men's revealed preference for their mates' age. Evolution and Human Behavior , 58-62, http://dx.doi.org/10.1016/j.evolhumbehav.2016.06.007
  16. Turban, D. B., & Lee, F. K. (2007, 19 Juni). The Role of Personality in Mentoring Relationship. pp. 21-50
  17. Turban, D. B., Moake, T. R., Wu, S. Y.-H., & Cheung, Y. H. (2017). Linking extroversion and proactive personality to career success: the role of mentoring received and knowledge . Journal of Career Development , 20-33. Doi: 10.1177/0894845316633788

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.