skip to main content

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA NARAPIDANA PEREMPUAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ‘‘X’’

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan, dalam menjalani proses hukuman narapidana banyak mengalami keterbatasan sehingga mereka tertekan merasa depresi dan sedih dalam menjalani hidup. Oleh karena itu narapidana membutuhkan keluarga untuk tetap merasa didukung, Dukungan yang dibutuhkan antara lain berupa dukungan sosial. Dukungan sosial yang sangat besar dampaknya berasal dari keluarga inti yaitu suami atau anak. Dukungan sosial yang diberikan oleh suami atau anak dapat  membuat narapidana merasa dicintai dan disayangi sehingga lebih merasa bahagia dalam menjalani proses hukuman di Lembaga Pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan subjective well-being pada narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan “X”. Subjek penelitian ini adalah narapidana yang memiliki keluarga inti yaitu suami dan anak remaja berusia 13 tahun, yang berjumlah 60 narapidana. Subjek penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik sampling simple randomsampling. Metode pengumpulan data menggunakan dua skala, yaitu Skala Subjective Well-Being (28 item α = 0,892) dan  Skala Dukungan Sosial Keluarga (39 item α = 0,963). Uji hipotesis dengan teknik analisis regresi sederhana menunjukkan koefisien korelasi 0,661 dengan signifikansi 0,000 (p<0,05), yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan subjective well-being. Semakin positif dukungan sosial keluarga yang dirasakan maka semakin tinggi subjective well-being yang dimiliki narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan “X”. Dukungan sosial keluarga memberikans umbangan efektif yaituR square = 0,437 atau sebesar 43,7% padasubjective well-being. Sebanyak 61,7% subjek dalam penelitian ini merasakan dukungan sosial keluarga yang positif serta 81,7% memiliki subjective well-being yang tinggi.

Fulltext View|Download
Keywords: dukungan sosial keluarga; subjective wellbeing; narapidana perempuan

Article Metrics:

  1. Amandari, S.L.,& Sartika, D. (2015). Hubungan antara character strength dengan penyesuaian diri yang efektif pada narapidana di lapas sukamiskin kelas II A Bandung. Prosiding Psikologi, 2, 519-524. ISSN: 2460-6448. Astuti, A.B., Santosa, S.W., & Utami, M.S. (2000). Hubungan antara dukungan keluarga dengan penyesuaian diri perempuan pada kehamilan pertama. Jurnal Psikologi, 2, 84-95
  2. Berns, R.M. (2004). Child, family, community: socialization and support. Sixth Edition. Belmont: Wadsworth/ Thomson Learning
  3. Compton, W.C. (2005). Introduction to positive psychology. New York: Thomson Wodsworth
  4. Diener, E. (2009). The science of subjective well-being: the collected works of ed diener. Illinois: Springer
  5. Eid, M., & Larsen, R.J. (2008). The science of subjective well-being. New York: Guilford Press
  6. Ekasari, A., & Susanti, N.D. (2009). Hubungan antara optimisme dan penyesuaian diri dengan stress pada narapidana kasus napza di lapas kelas II.A bulak kapal Bekasi. Journal Soul, 2(2), 19-32
  7. Finck,C., Barradas, S., Zenger, M., and Hinz, A. (2017). Quality of life in breast cancer patien: Associations with optimism and social support. International Journal of Clinical and Health Psychology, 18, 27-24. Doi: 10.1016/j.ijchp.2017.11.002
  8. Kartono, K. (2014). Patologi sosial. Jakarta: Rajawali
  9. Lestari, S. (2016). Psikologi keluarga: penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga, Edisi ke-1. Cet.Ke-4. Jakarta: Prenadamedia Group. Lubis, S.M., & Maslihah, S. (2012). Analisis sumber-sumber kebermaknaan hidup narapidana yang menjalani hukuman seumur hidup. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro,11(1), 28-39
  10. Meilina, C.P. (2013). Dampak psikologis bagi narapidana wanita yang melakukan tindak pidana pembunuhan dan upaya penanggulangannya. Jurnal Universitas Brawijaya, 1(2), 1-15
  11. Nayana, F.N. (2013). Kefungsian keluarga dan subjective well-being pada remaja. Journal Ilmiah Psikologi Terapan. 1(2), 230-244
  12. Noaparast, E.B. (2011). Social capital, family supports and mental health among a female group in tehran. Procedia-Social and behavior sciences (2011)30, 2449-2451. Doi: 10.1016/j.sbspro.2011.10.477
  13. Noor, F. (2016). Intimate relationship pada keluarga narapidana di lapas sukamiskin Bandung.Jurnal Online Psikologi, 1(3). 1-24
  14. Potabuga, R. (2012). Pidana penjara menurut KUHP. Lex Crimen, 1(4), 79-93. Sholichatun, Y. (2011). Stress dan strategi coping pada anak didik di lembaga pemasyarakatan anak. Jurnal Psikologi Islam, 8(1), 23-42
  15. Suryabrata, S. (2013). Metodologi penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
  16. Taylor, S. (2015). Health psychology. 9th Edition. New York: McGraw-Hill Education
  17. Yasin, M.A.S.M., & Dzulkifli, M.A. (2010). The relation between social support and psychological problems among students. International Journal of Business and Social Science, 1(3), 110-116

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.