STUDI PERANCANGAN RESCUE HOVERCRAFT UNTUK EVAKUASI KORBAN BENCANA ALAM

*Dede Nugraha Sentosa HS  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Deddy Chrismianto  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Parlindungan Manik  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Published: .
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Ketika terjadi suatu bencana alam sering kali kesulitan dalam mengevakuasi penduduk yang daerahnya terkena bencana alam. Salah satu penyebab kesulitan evakuasi tersebut yaitu medan yang sulit untuk dijangkau sehingga sangat dibutuhkan kendaraan yang bisa dioperasikan di berbagai medan. Hovercraft termasuk dalam jenis kendaraan amfibi, dalam arti bisa berfungsi di perairan maupun daratan. Bahkan hovercraft tetap dapat digunakan pada daerah rawa atau lumpur yang notabene kendaraan darat atau kapal tidak dapat digunakan di medan seperti itu. Dengan segala kelebihannya, penggunaan hovercraft sebagai kendaraan SAR (Search and Rescue) korban bencana alam sangat efektif.

 

Penelitian ini bertujuan mendapatkan ukuran utama hovercraft yang bisa digunakan secara optimal dan sesuai dengan kebutuhan dalam evakuasi suatu bencana alam sehingga dihasilkan rencana garis dan rencana umum serta diketahui analisa hovercraft dari segi stabilitas dan manuver.

 

Untuk mengetahui lebih spesifik tentang perancangan sebuah hovercraft, maka dilakukan survey lapangan ke perusahaan yang telah melakukan pembuatan hovercraft di Indonesia, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero). Dari berbagai referensi yang didapatkan kemudian ditentukan ukuran utama menggunakan metode Regresi Linier dan Polinom Lagrange. Setelah ditentukan dimensi dan berat total hovercraft, selanjutnya dilakukan perhitungan hambatan, daya, tinggi rintangan, titik berat serta analisa stabilitas dan manuver.

 

Rescue Hovercraft yang direncanakan ini mempunyai panjang (L) 11 meter. Dalam melakukan evakuasi korban bencana alam Rescue Hovercraft ini direncanakan mampu menempuh jarak 50 km. Dimensi Rescue Hovercraft yaitu L = 11,00 meter, B = 4,56 meter, Vs = 35 knot, payload 2,40 ton, dan jumlah penumpang sebanyak 20 orang. Pada analisa stabilitas Rescue Hovercraft ini terbagi atas 3 kondisi, yaitu saat hovercraft hanya diisi oleh kru (kondisi I), saat hovercraft diisi oleh kru dan para penumpang (kondisi II), dan saat mesin tiba-tiba mati ketika hovercraft sedang berada di perairan sehingga bantalan udaranya tidak mengembang (kondisi III). Hasil perhitungan stabilitas Rescue Hovercraft pada semua kondisi dinyatakan memenuhi (pass) standar persyaratan yang ditetapkan oleh IMO. Nilai GZ maksimum pada kondisi I yaitu 2,297 meter yang terjadi pada 30,9o,  nilai GZ maksimum pada kondisi II  yaitu 2,284 meter yang terjadi pada 31,8o, dan nilai GZ maksimum pada kondisi III yaitu 1,669 meter yang terjadi pada 31,8o. Hasil analisa manuver menggunakan formula menunjukan bahwa manuver Rescue Hovercraft telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, yaitu pada saat surging, yawing, swaying, dan rolling semua perhitungan pada setiap sudut manuver dan kecepatan yang berbeda memiliki nilai negatif sehingga dihasilkan momen pemulih (righting moment) .

Keywords: Bencana Alam; Perancangan; Rescue; Hovercraft

Article Metrics: