ANALISA TEKNIS BAMBU LAMINASI SEBAGAI MATERIAL KONSTRUKSI KAPAL PERIKANAN

*Sahat Nico Juan Varian Sibarani  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan Fakultas Teknik , Indonesia
Parlindungan Manik  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan Fakultas Teknik , Indonesia
Published: .
Open Access
Citation Format:
Abstract

Indonesia adalah negara maritim dengan potensi industri maritim dan sumber daya laut yang sangat besar. Hal ini terkendala dari sarana berupa kapal ikan, baik dalam jumlah serta peralatan atau teknologi yang digunakan. Kapal kayu banyak digunakan di Indonesia karena bahan bakunya banyak tersedia dan mudah ditemukan di Indonesia. Meskipun potensi kayu sebagai bahan konstruksi kapal masih banyak tersedia, pertimbangan efisiensi dan penghematan penggunaan kayu harus dilakukan. Salah satu alternatif material pengganti kayu adalah menggunakan bambu betung/petung dengan teknologi laminasi.

Dalam penelitian ini pertama dilakukan mendapatakan syarat kapal kayu dengan mengacu BKI Kapal Kayu 1996. Dilanjutkan pembuatan bambu laminasi, dimana bambu betung melalui proses pemotongan, moulding, multirib, pengawetan, pengovenan, pemberian perekat dan pengempaan. Untuk mengetahui sifat fisik bambu dilakukan uji kadar air dan kerapatan. Untuk mengetahui sifat mekanik bambu laminasi dilakukan uji tarik bambu bilah, uji tekan sejajar serat bambu utuh dan uji lentur untuk spesimen balok lunas, gading, kulit dan geladak. Dalam pengujian ini digunakan standar ISO 22157-1-2004 dan untuk uji lentur dilakukan dengan pembebanan 2 titik. Dari hasil uji lentur dilakukan analisa keteguhan lentur mutlak kemudian dibandingkan dengan kekuatan yang diijinkan bahan kayu dalam BKI Kapal Kayu 1996.

Berdasarkan hasil pengujian bambu memiliki kadar air rata-rata 12,62 % , kerapatan rata-rata 0,91 gr/cm3, kuat tarik sejajar rata-rata 63,6 MPa,dan kuat tekan sejajar serat  rata-rata 19,25 MPA dengan MOE tekan rata-rata 16,81 MPa. Untuk balok lunas MOR rata-rata 7,68 Mpa dan MOE rata-rata 2715,69 MPa, gading memiliki MOR rata-rata 73,61 Mpa dan MOE rata-rata 34625,96 Mpa dan kulit dan geladak memiliki MOR rata-rata 256,16 Mpa dan MOE rata-rata 19895.43 MPa . Hasil pengujian lentur untuk gading, kulit dan geladak memenuhi keteguhan lentur mutlak dari BKI Kapal Kayu 1996, namun tidak demikian untuk balok lunas
Keywords: Bambu laminasi, BKI Kapal Kayu 1996, kapal perikanan

Article Metrics: