Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Baja SS 400 Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) Akibat dengan Variasi Jenis Kampuh dan Posisi Pengelasan

Received: 24 Jul 2019; Published: 6 Sep 2019.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Baja SS 400 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, impak, dan struktur mikrografi dari sambungan las jenis double V-butt joint 60° dan single U –butt joint serta perbedaan posisi pengelasan pada baja SS 400 yaitu posisi 1G (Down Hand) dan posisi 2G (Horizontal). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sambungan las dan posisi pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Hasil penelitian menunjukkan RAW material baja SS 400 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391,02 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,71%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,16 GPa dan harga impak sebesar 2,75 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh double V-butt joint dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 403,26 MPa, rata-rata regangan sebesar 44,93%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,71 GPa dan memiliki harga impak sebesar 2,39 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh single U-butt joint dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 402,19 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,29%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,42 GPa dan memiliki harga impak sebesar 1,38 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh double V-butt joint dan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 403,75 MPa, rata-rata regangan sebesar 42,71%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 7,23 GPa dan memiliki harga impak sebesar 2,27 J/mm2. Sedangkan pengelasan dengan kampuh single U-butt joint dan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 401,55 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,15%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,68 GPa dan memiliki harga impak sebesar 1,30 J/mm2. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan kampuh double V-butt joint posisi pengelasan 2G memiliki kekuatan tarik terbesar dari jenis variasi lainnya. Sedangkan kampuh double V-butt joint posisi pengelasan 1G memiliki harga impak terbesar dari jenis variasi lainnya.

Keywords: Baja SS 400, Pengelasan SMAW, Posisi Pengelasan, Jenis Kampuh, Tarik, Impak, Mikrografi

Article Metrics:

  1. ASM Handbook Vol 1:148 (1993)
  2. Mulyatno, IP dan Sarjito J.S. 2008. Analisa Kekuatan Sambungan Las SMAW ( Shielded Metal Arc Welding ) Pada Marine Plate 42 Akibat Faktor Cacat Porositas dan incomplete Penetration. Semarang : Jurnal Teknik Perkapalan. Vol. 5, No 2.
  3. Hamid, Abdul .2016. Analisa Pengaruh Arus Pengelasan SMAW Pada Material Baja Karbon Rendah Terhadap Kekuatan Material Hasil Sambungan. Batam : Jurnal Teknologi Elektro. Vol. 7, No 1 : 26-36
  4. Qomari, Achmad Nurul, Solicin dan Prihanto Tri Hutomo. 2015. Pengaruh Pola Gerakan Elektrode dan Posisi Pengelasan Terhadap Kekerasan Hasil Las Pada Baja ST60. Jurnal Teknik Mesin – Tahun 23 No.2 – Universitas Negeri Malang.
  5. Fridayan, Robby Nur, Herman Pratikno dan Hasan Ikhwani. 2017. Analisis Pengaruh Variasi Heat Input dan Bentuk Kampuh pada Pengelasan SMAW Weld Joint Baja A 36 Terhadap Sifat Mekanik. Surabaya: Jurnal Teknik ITS Vol.6, No 2. Institut Teknologi Sepuluh November.
  6. Kurniawan, Anjas Nurcahyo. 2017. Pengaruh Variasi Bentuk Kampuh Terhadap Struktur Mikro, Kekerasan dan Kekuatan Tarik Pada Proses Pengelasan Baja SS 400 Dengan Metode SMAW (Shielded Metal Arc Welding). Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  7. Huda, Saiful, Joko Waluyo dan Teguh Fintoro. 2013. Analisa Pengaruh Variasi Arus dan Bentuk Kampuh Pada Pengelasan SMAW Terhadap Distorsi Sudut dan Kekuatan Tarik Sambungan Butt Joint Baja AISI 4140. Yogyakarta: Fakultas Teknologi Industri Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
  8. Wiryoso, H. 1996. Teknologi Pengelasan Logam. Cetakan ke-7. PT. Pradnya Paramitha, Jakarta.
  9. Mulyatno, IP dan Sarjito J.S. 2008. Analisa Kekuatan Sambungan Las SMAW ( Shielded Metal Arc Welding ) Pada Marine Plate 42 Akibat Faktor Cacat Porositas dan incomplete Penetration. Semarang : Jurnal Teknik Perkapalan. Vol. 5, No 2 : 102-113.
  10. Susetyo, F. B., Syaripuddin, & Hutomo, S. (2013). Studi Karakteristik Hasil Pengelasan MIG. Jurnal Mechanical, 4(2), 13.
  11. Yuwono, A. H. 2009. Buku Panduan Praktikum Karakterisasi Material 1 Pengujian Merusak (Destructive Testing). Jakarta: Departemen Metalurgi Dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
  12. Setiaji, R. 2009. Pengujian Tarik. Jakarta: Laboratorium Metalurgi Fisik FTUI.
  13. Naufal, A. 2016. Pengaruh Kuat Arus Listrik dan Sudut Kampuh V Terhadap Kekuatan Tarik dan Tekuk Aluminium 5083 Pengelasan Gtaw.Semarang:Universitas Diponegoro.
  14. Metallography and Microstructure. 2004. ASM Metals Handbook, Vol 9.
  15. ASTM E8/E8M-09. 2009. Standard Specification for Aluminum and Aluminum-Alloy Sheet and Plate. USA.
  16. ASTM E23/E23-07aE1. 2007. Standard Test Methods for Notched Bar Impact Testing of Metallic Materials. USA.
  17. Biro Klasifikasi Indonesia, 2013, “Rules for the Classification and Construction: Volume VI Rules for Welding”, Jakarta.
  18. Febri, Baharudin Yusuf. 2011. Analisa Sifat Mekanik Hasil Pengelasab GMAW Baja SS 400 Studi Kasus di PT.INKA Madiun. Surabaya: Jurnal Teknik Mesin Institut Sepuluh November Surabaya.