EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PAMSIMAS (PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT) TAHUN 2009-2010 DI KABUPATEN GROBOGAN

Published: 3 Apr 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract
Abstrak
Program PAMSIMAS merupakan program pemerintah pusat yang membantu penyediaan air minum dan sanitasi dengan konsep berbasis kebutuhan masyarakat bagi kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang memiliki kesulitan didalam pemenuhan akses air dan sanitasi. Salah satu kabupaten yang telah melaksanakan Program PAMSIMAS Tahun 2008 adalah Kabupaten Grobogan. Akan tetapi, dari pemberitaan surat kabar Tahun 2011 menyatakan bahwa Program PAMSIMAS gagal terlaksana untuk membantu masyarakat dalam akses air dan sanitasi, bahkan dikatakan banyak yang mangkrak (tidak terawat). Padahal menurut pemerintah kabupaten dan konsultan PAMSIMAS, bahwa desa-desa penerima Program PAMSIMAS telah berhasil, bahkan ada yang mendapatkan HID.
Tipe penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dengan lokasi penelitian di Desa Jetaksari, Kenteng, Ngrandah dan Pakis sebagai desa penerima Program PAMSIMAS untuk menggambarkan mengapa terjadi variasi pencapaian tujuan Program PAMSIMAS, yakni berhasil dan gagal. Selain itu, juga menggambarkan dalam analisisnya bagaimana proses pelaksanaan PAMSIMAS?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa masalah pada proses pelaksanaan PAMSIMAS yakni pada komponen pendukung keberhasilan Program PAMSIMAS seperti perencanaan (komponen I: Keterlibatan Masyarakat), pembangunan (komponen II: Pelayanan sanitasi dan kesehatan masyarakat), dan pengelolaannya (komponen III: penyediaan sarana air minum dan sanitasi).
Proses perencanaan (komponen I), tidak selamanya berbasia masyarakat didalam perencanaan program, karena yang terlibat adalah perwakilan masyarakat dan pemerintah desa dan hasil perencanaan tidak di sampaikan kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat dari keempat desa hanya mengetahui perencanaan program dari komponen kontribusi biaya (in-cash) dan tenaga (in-kind) untuk pembangunan Program PAMSIMAS, tanpa mengerti tentang rincian pembangunan tersebut. Disisi lain, Desa Jetaksari memiliki masalah pada pembangunan
1 Barkah Welli Sanjaya adalah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Diponegoro, Semarang. Alamat email : sanjaya_barkah@yahoo.com
2 Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Undip
3 Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Undip
2
(komponen II) yang berdampak pada pelaksanaan pengelolaan (komponen III), yakni masalah
pada proses penentuan sumber air yang tidak melalui uji kelayakan dan kesehatan sehingga air
yang dihasilkan tidak layak konsumsi oleh masyarakat, yang pada akhirnya membuat sarana
tidak pernah dipakai serta tidak terawat oleh masyarakat. Desa Kenteng, Ngrandah dan Pakis
memiliki masalah pada upaya penambahan jumlah sumur (komponen III) untuk melayani
kebutuhan masyarakat akan air bersih, meskipun telah dilakukan pengembangan akses sarana air.
Namun penggunaan air dari ketiga desa tersebut tidak efektif, karena masyarakat lebih memilih
menggunakan sarana air pribadi daripada sumur PAMSIMAS ketika musim penghujan,
sedangkan penggunaan sarana PAMSIMAS hanya ketika musim kemarau. Padahal, Program
PAMSIMAS mengaharapkan adanya keberlanjutan penggunaan untuk membantu pemasukan
biaya untuk pengelolaan sarana air.
Sedangkan dari sisi kegiatan pengelolaan sanitasi, hanya Desa Kenteng yang memiliki kegiatan
rutin untuk melaksanakan pemantauan tingkat kesadaran sanitasi dan PHBS masyarakat,
sedangkan Desa Jetaksari, Ngrandah dan Desa Pakis memiliki masalah masalah koordinasi dan
bantuan serta pemahaman mengenai konsep “relawan” (sukarela) antar anggota kader sanitasi
maupun pemerintah. Sehingga membuat pelaksanaan kegiatan pemantauan sanitasi dan PHBS
masyarakat terkendala, meskipun memiliki potensi untuk dilanjutkan kembali.
Kata kunci: Program PAMSIMAS, proses, keterlibatan masyarakat

Article Metrics: