BibTex Citation Data :
@article{JMR50992, author = {Ghulam Firdaus and Chrisna Adhi Suryono and Bambang Yulianto}, title = {Evaluasi Konsentrasi Logam Berat Arsen (As) dalam Air dan Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok, Semarang}, journal = {Journal of Marine Research}, volume = {15}, number = {2}, year = {2026}, keywords = {Arsen; Kerang hijau; Tambak Lorok}, abstract = { Tambak Lorok sebagai sentra budidaya kerang hijau ( Perna viridis ) terbesar di Jawa Tengah menghadapi tekanan pencemaran berat akibat aktivitas antropogenik intensif. Studi terdahulu membuktikan kontaminasi logam berat di perairan ini, seperti kadar timbal (Pb) pada kerang hijau mencapai 13,448 mg/kg (melebihi baku mutu) dan kadmium (Cd) pada sedimen sebesar 1,649 mg/kg. Namun, data arsen (As) sebagai polutan karsinogenik masih terbatas, padahal kawasan ini menerima limpahan limbah industri Terboyo, PLTU batubara, dan limbah domestik melalui Banjir Kanal Timur/Barat yang mengandung senyawa arsen trioksida (As₂O₃). Penelitian ini menganalisis kandungan arsen pada air laut dan jaringan kerang hijau di tiga stasiun (Banjir Kanal Timur, Pelabuhan Tanjung Emas, Banjir Kanal Barat) pada Januari 2025. Metode deskriptif-analitik digunakan dengan pengambilan sampel air secara komposit dan kerang hijau langsung dari rumpon budidaya. Analisis arsen dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) Shimidzu AA-7000 (sensitivitas 0,003 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan arsen (As) dalam air laut di Tambak Lorok terdeteksi <0,003 mg/L (di bawah batas akurasi alat AAS), nilai yang masih berada di bawah baku mutu 0,012 mg/L menurut PP No. 22 Tahun 2021. Pada kerang hijau (Perna viridis), akumulasi arsen berkisar antara 0,428– 0,447 mg/kg masih di bawah ambang aman SNI 7387:2009 sebesar 1 mg/kg. Nilai Bioconcentration Factor (BCF) arsen 142–149 mengindikasikan kemampuan akumulasi arsen tingkat sedang dari lingkungan perairan oleh kerang hijau. Berdasarkan kadar arsen tersebut, batas aman konsumsi mingguan (Maximum Tolerable Intake) ditetapkan sebesar 0,50–0,53 kg untuk anak-anak (berat 15 kg) dan 2,01–2,10 kg untuk dewasa (berat 60 kg). Meskipun kadar arsen masih dalam batas aman, tingginya aktivitas industri dan dinamika hidrologi di Tambak Lorok berpotensi meningkatkan akumulasi arsen jangka panjang. Pemantauan berkala dengan instrumen berpresisi tinggi (ICP-MS) dan pengendalian limbah industri direkomendasikan untuk menjamin keberlanjutan ekosistem dan keamanan pangan. Tambak Lorok, Central Java's largest green mussel (Perna viridis) cultivation hub, faces severe pollution pressure from intensive anthropogenic activities. Previous studies confirm heavy metal contamination here, including lead (Pb) levels in mussels reaching 13.448 mg/kg (exceeding safety thresholds) and sediment cadmium (Cd) at 1.649 mg/kg. Despite evidence of arsenic trioxide (As ₂ O ₃ ) discharges from the Terboyo industrial zone, coal-fired power plants (PLTU), and domestic waste via the East/West Flood Canals, data on carcinogenic arsenic (As) remains scarce. This study quantified arsenic in seawater and mussel tissues across three stations (East Flood Canal, Tanjung Emas Port, West Flood Canal) in January 2025 using descriptive-analytic methods. Composite seawater samples and mussels collected directly from cultivation plots were analyzed via Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS; Shimadzu AA-7000, detection limit: 0.003 ppm). Results showed seawater arsenic levels <0.003 mg/L—below detection limits but compliant with Indonesia's safety standard (PP No. 22/2021: 0.012 mg/L). Mussel arsenic concentrations ranged from 0.428–0.447 mg/kg, under the SNI 7387:2009 safety threshold (1 mg/kg). The Bioconcentration Factor (BCF) of 142–149 indicated moderate arsenic bioaccumulation capacity from the aquatic environment. Based on these levels, safe weekly consumption limits (Maximum Tolerable Intake) were calculated as 0.50–0.53 kg for children (15 kg body weight) and 2.01–2.10 kg for adults (60 kg). Although current arsenic levels pose no immediate risk, persistent industrial emissions and hydrological dynamics in Tambak Lorok threaten long-term arsenic buildup. We recommend high-precision monitoring (e.g., ICP-MS) and stricter industrial waste controls to safeguard ecosystem health and seafood safety. }, issn = {2407-7690}, pages = {438--445} doi = {10.14710/jmr.v15i2.50992}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jmr/article/view/50992} }
Refworks Citation Data :
Tambak Lorok sebagai sentra budidaya kerang hijau (Perna viridis) terbesar di Jawa Tengah menghadapi tekanan pencemaran berat akibat aktivitas antropogenik intensif. Studi terdahulu membuktikan kontaminasi logam berat di perairan ini, seperti kadar timbal (Pb) pada kerang hijau mencapai 13,448 mg/kg (melebihi baku mutu) dan kadmium (Cd) pada sedimen sebesar 1,649 mg/kg. Namun, data arsen (As) sebagai polutan karsinogenik masih terbatas, padahal kawasan ini menerima limpahan limbah industri Terboyo, PLTU batubara, dan limbah domestik melalui Banjir Kanal Timur/Barat yang mengandung senyawa arsen trioksida (As₂O₃). Penelitian ini menganalisis kandungan arsen pada air laut dan jaringan kerang hijau di tiga stasiun (Banjir Kanal Timur, Pelabuhan Tanjung Emas, Banjir Kanal Barat) pada Januari 2025. Metode deskriptif-analitik digunakan dengan pengambilan sampel air secara komposit dan kerang hijau langsung dari rumpon budidaya. Analisis arsen dilakukan dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) Shimidzu AA-7000 (sensitivitas 0,003 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan arsen (As) dalam air laut di Tambak Lorok terdeteksi <0,003 mg/L (di bawah batas akurasi alat AAS), nilai yang masih berada di bawah baku mutu 0,012 mg/L menurut PP No. 22 Tahun 2021. Pada kerang hijau (Perna viridis), akumulasi arsen berkisar antara 0,428– 0,447 mg/kg masih di bawah ambang aman SNI 7387:2009 sebesar 1 mg/kg. Nilai Bioconcentration Factor (BCF) arsen 142–149 mengindikasikan kemampuan akumulasi arsen tingkat sedang dari lingkungan perairan oleh kerang hijau. Berdasarkan kadar arsen tersebut, batas aman konsumsi mingguan (Maximum Tolerable Intake) ditetapkan sebesar 0,50–0,53 kg untuk anak-anak (berat 15 kg) dan 2,01–2,10 kg untuk dewasa (berat 60 kg). Meskipun kadar arsen masih dalam batas aman, tingginya aktivitas industri dan dinamika hidrologi di Tambak Lorok berpotensi meningkatkan akumulasi arsen jangka panjang. Pemantauan berkala dengan instrumen berpresisi tinggi (ICP-MS) dan pengendalian limbah industri direkomendasikan untuk menjamin keberlanjutan ekosistem dan keamanan pangan.
Tambak Lorok, Central Java's largest green mussel (Perna viridis) cultivation hub, faces severe pollution pressure from intensive anthropogenic activities. Previous studies confirm heavy metal contamination here, including lead (Pb) levels in mussels reaching 13.448 mg/kg (exceeding safety thresholds) and sediment cadmium (Cd) at 1.649 mg/kg. Despite evidence of arsenic trioxide (As₂O₃) discharges from the Terboyo industrial zone, coal-fired power plants (PLTU), and domestic waste via the East/West Flood Canals, data on carcinogenic arsenic (As) remains scarce. This study quantified arsenic in seawater and mussel tissues across three stations (East Flood Canal, Tanjung Emas Port, West Flood Canal) in January 2025 using descriptive-analytic methods. Composite seawater samples and mussels collected directly from cultivation plots were analyzed via Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS; Shimadzu AA-7000, detection limit: 0.003 ppm). Results showed seawater arsenic levels <0.003 mg/L—below detection limits but compliant with Indonesia's safety standard (PP No. 22/2021: 0.012 mg/L). Mussel arsenic concentrations ranged from 0.428–0.447 mg/kg, under the SNI 7387:2009 safety threshold (1 mg/kg). The Bioconcentration Factor (BCF) of 142–149 indicated moderate arsenic bioaccumulation capacity from the aquatic environment. Based on these levels, safe weekly consumption limits (Maximum Tolerable Intake) were calculated as 0.50–0.53 kg for children (15 kg body weight) and 2.01–2.10 kg for adults (60 kg). Although current arsenic levels pose no immediate risk, persistent industrial emissions and hydrological dynamics in Tambak Lorok threaten long-term arsenic buildup. We recommend high-precision monitoring (e.g., ICP-MS) and stricter industrial waste controls to safeguard ecosystem health and seafood safety.
Article Metrics:
Last update:
Copyright Notice
Copyright for articles published in the Journal of Marine Research is held by the journal’s editorial management. The journal supports open access and the widespread dissemination of scholarly work.
Publishing Rights By submitting to this journal, authors grant the Journal of Marine Research the non-exclusive right to publish and distribute their work. All content is made freely available to the public and is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0). This license allows others to copy, redistribute, remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially, as long as appropriate credit is given, a link to the license is provided, and any modified material is distributed under the same license.