skip to main content

Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen, dan Lamun (Thalassia hemprichii) di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu

*Handi Cahyo Triyanto  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ria Tri Azizah Nuraini  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Dwi Haryanti  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Pulau Kelapa Dua yang merupakan salah satu pulau destinasi wisata yang ada di Kepulauan Seribu, banyaknya mobilitas dari aktivitas manusia seperti jalur kapal menjadi sumber masalah pencemaran logam berat Timbal (Pb). Lamun menjadi salah satu bioindikator yang berfungsi sebagai penyerap dan pengakumulasi logam berat, salah satu jenis lamun yang banyak ditemukan di perairan Pulau Kelapa Dua yaitu Thalassia hemprichii. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan logam berat Timbal (Pb) pada air, sedimen, dan lamun T. hemprichii dengan menggunakan metode survei eksploratif. Analisis kandungan logam Pb menggunakan Atomic Absorption Spectophotometer (AAS) dengan metode destruksi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan lamun T. hemprcihii di Pulau Kelapa Dua sudah termasuk dalam kategori tercemar Pb berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021, sedangkan pada sedimen masih dibawah baku mutu yang ditetapkan oleh ANZECC (2000). Hasil kandungan logam Pb pada air berkisar 0,53–1,22 ppm, pada sedimen berkisar 0,06–0,41 ppm, pada akar lamun berkisar 4,2–10,4 ppm, dan hasil kandungan logam Pb tertinggi ditemukan pada daun lamun berkisar 14,5–28 ppm. Berdasarkan hasil tersebut, lamun T. hemprichii memiliki nilai tertinggi dalam mengakumulasikan logam berat dibandingkan sedimen dan air.

 

Kelapa Dua Island is one of the tourists destination islands in the Kepulauan Seribu, and is heavily affected by human activities such as sea transportation that become source of heavy metal pollution problems. Seagrass is one of the bioindicators that functions as an absorber and accumulation of heavy metals. One of the most common seagrass found on Kelapa Dua Island is Thalassia hemprichii. This study was conducted to investigate the Lead (Pb) content in water, sediment, and seagrass (T. hemprichii) using explorative surveys. Lead content were analyzed using (Atomic Absorption Spectophotometer) AAS method with the use of wet destruction method. The research resulted that water and seagrass T. hemprichii on Kelapa Dua Island had already been polluted with Pb based on Indonesian Government Regulation No 22 of 2021. While the sediment are not polluted by Pb according to standards by ANZECC (2000). The result of heavy metal Pb content in the water ranging from 0,532 – 1,244 ppm, while sediment with value ranging from 0,006 – 0,41 ppm, and seagrass root scored between 4,2 – 10,4 ppm, highest level of Pb content was found on seagrass leaf with value ranging from 14,5 – 28 ppm. The results show that T. hemprichii has the highest absorption of Pb compared to sediment and water.

 

Fulltext View|Download
Keywords: Timbal; Thalassia hemprichii; Air; Sedimen; Pulau Kelapa Dua

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.