Potensi Simpanan Karbon Pada Lamun Cymodocea serrulata Di Pantai Prawean, Jepara

*Tiara Nur Baeti Baeti  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Retno Hartati Hartati  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ita Riniatsih Riniatsih  -  Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 3 Feb 2019.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Pemanasan global merupakan akibat dari peningkatan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti halnya gas karbondioksida, metana, nitro dioksida, maupun gas alam lainnya. Ekosistem padang lamun di perairan Pantai Prawean, Kabupaten Jepara memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai penyangga ekosistem lain di perairan tersebut. Potensi padang lamun diantaraanya adalah sebagai penyimpan emisi karbon, sehingga mampu mencegah terjadinya pemanasan global (global warming) atau biasa disebut sebagai blue carbon. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi simpanan karbon pada lamun jenis Cymodocea serrulata di perairan Pantai Prawean, Kabupaten Jepara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2018 dan Maret 2019 dengan metode pengukuran karbon pada lamun Loss of Ignition (LOI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa terbesar terletak pada bagian Below Ground (akar dan rhizoma) dengan persentase di atas 50% pada kedua waktu pengamatan bila dibandingkan dengan jaringan lamun di atas substrat (daun). Rata-rata kandungan karbon tertinggi pada kedua waktu penelitain terletak pada bagian akar lamun dengan persentase nilai simpanan karbon mencapai 55 – 57%. Terjadi penurunan nilai simpanan karbon dalam dua kali pengambilan data, yakni pada bulan Desember 2018 total simpanan karbon pada lamun Cymodocea serrulata mencapai 6,77 ton sedangkan pada bulan Maret 2019 nilainya turun menjadi 5,38 ton. Penurunan total simpanan karbon pada lamun ini di duga diakibatkan oleh adanya perubahan faktor fisik perairan serta adanya faktor antropogenik di wilayah perairan tersebut.


Global warming is a result of increasing greenhouse gases (GHG), such as carbon dioxide, methane, nitrous dioxide, and other natural gas. Seagrass ecosystems in the waters of Prawean Beach, Jepara Regency have very important ecological functions as a buffer for other ecosystems in these waters. The potential of seagrass bed is as a store of carbon emissions, so as to prevent global warming or commonly referred to as blue carbon. The purpose of this research is to determine the potention of carbon deposits in seagrass species of Cymodocea serrulata in the waters of Prawean Beach, Jepara Regency. This research was conducted in December 2018 and March 2019 with the method of carbon measurement in seagrass Loss of Ignition (LOI). The results showed that the largest biomass was located in the Below Ground (roots and rhizomes) with a percentage above 50% at both observation time when compared to seagrass tissue on the substrate (leaves). The highest average carbon content at both time of the survey was located in the seagrass root section with a percentage of the value of carbon deposits reaching 55 - 57%. There was a decrease in the value of carbon deposits in two data collection, namely in December 2018 the total carbon deposits in seagrass Cymodocea serrulata reached 6,77 tons while in March 2019 the value dropped to 5,38 tons. The decrease in total carbon deposits in seagrasses is thought to be caused by changes in physical factors of the waters and the presence of anthropogenic factors in these waters.

Keywords: Biomassa; C. serrulata; Pantai Prawean; Simpanan Karbon; Biomass; Cymodocea serrulata; Prawean beach; Carbon Stock

Article Metrics: