skip to main content

PENGARUH LAMA PERENDAMAN INDUK BETINA DALAM EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinela alpina) TERHADAP MASKULINISASI IKAN GUPPY (Poecilia reticulata)

*Aliriza Hamonangan Matondang  -  Departemen Akuakultur, Indonesia
Fajar Basuki  -  Departemen Akuakultur, Indonesia
Ristiawan Agung Nugroho  -  Departemen Akuakultur, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Ikan guppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan hias yang mempunyai nilai komersil tinggi baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan morfologisnya, ikan guppy jantan memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan corak warna tubuh dan sirip yang lebih cemerlang dari pada guppy betina, sehingga permintaan komoditas ikan guppy jantan lebih banyak dari pada guppy betina. Salah satu upaya untuk memenuhi tingginya permintaan dengan melakuakan maskulisasi ikan guppy dengan ekstrak purwoceng, sebagai bahan alternatif pengganti hormon sintetik 17α-metiltestosteron. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A 0 jam, perlakuan B selama 8 jam, perlakuan C selama 12 jam dan perlakuan D selama 16 jam dengan dosis yang sama yaitu 20 mg/L. Data yang diamati meliputi, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan ekstrak purwoceng pada induk betina bunting dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan, betina dan kelulushidupan (SR). Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 47.01%, perlakuan B sebesar 63.98%, perlakuan C sebesar 56.72% dan perlakuan D sebesar 55.68%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Guppy (P. reticulata). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman ekstrak purwoceng pada induk guppy betina bunting dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh terhadap persentase kelamin jantan pada benih ikan guppy (P. reticulata) usia 45 hari. Lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan B yaitu dengan lama waktu perendaman 8 jam yang menghasilkan persentase kelamin jantan sebersar 63,98%.

 

Guppy fish is an ornamental fish which has high economic value on local or international trade. Based on its morphology, male guppy fish has slimmer and colourfull body with more sparkle fin than female guppy fish. So, the comodity of male guppy fish has higher demand than female guppy. One of effort to fulfill its demand is by guppy fish masculinization with purwoceng extract as an alternative substitution of sinthetic hormone 17α-metiltestosteron. This research was conducted by applying completely randomized design (CRD), which consisted of 4 treatments and 3 replicates. The treatment was A 0 hour, B treatment for 8 hours, treatment C for 12 hours and D treatment for 16 hours with the same dose of 20 mg/Ll. Measuring variables in this research were, the percentage of males, females (%), and survival rate (SR) and water quality. The results showed that pregnant female guppy which immersed in purwoceng extract with different lenght of time had significant different (P < 0.05) in male, female, and survival rate fish percentage,. The percentage of male fish in treatment A was 47.01%, treatment B was 63.98%, treatment C was 56.72% and treatment D was 55.68%. Water quality in the media was in recommended range for maintaining Guppy fish (P. reticule). The conclusion of this research was that the defferent periode immersion of pregnant guppy fish with purwoceng extract had significant effect on male larvae guppy fish 45 days (P. reticulate) percentage. The best defferent period immersion was in treatment B with 8 hours immersion period which produced 63.98% of male guppy fish.

Fulltext View|Download
Keywords: Maskulinisasi; Guppy (P. reticulata); Ekstrak Purwoceng

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.