INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP HUMOR SARA DALAM VIDEO SACHA STEVENSON DI JEJARING SOSIAL YOUTUBE

Published: 5 Oct 2015.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 112 118
Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan materi SARA (Suku, Agama, Ras, dan
Antar Golongan) dalam berkomedi di media sosial. Sacha Stevenson membuat video
komedi bermaterikan SARA di jejaring sosial Youtube dan memiliki banyak penonton
yang menyukainya. Pesan SARA ini seharusnya dapat menyinggung khalayak, tapi
terdistorsi dengan adanya humor. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk
melihat keberagaman pemaknaan yang terjadi mengenai materi SARA dalam video
Sacha Stevenson. Mitos Roland Barthes digunakan untuk memahami proses distorsi
humor SARA dalam video ini. Analisis sintagmatik dan paradigmatik John Fiske
digunakan untuk mengetahui makna yang ditawarkan oleh media. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis resepsi Stuart
Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada delapan
informan yang telah menonton video Sacha Stevenson dari Etnis Tionghoa, Suku
Sunda, dan beragama Islam.
Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak pada posisi dominan sepakat dengan
pesan yang ditawarakan oleh media karena sesuai dengan gambaran kebiasaan Etnis
Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam di Indonesia. Informan yang berada pada
posisi negosiasi hanya sepakat dengan sebagian gambaran tersebut dan mereka
memiliki aturan khusus yaitu penggambaran dalam video tersebut terlalau
mendiskriminasi dan mendiskriditkan Etnis Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam
di Indonesia. Mereka yang berada pada posisi oposisi, sama sekali tidak sepakat dengan
pesan media tersebut karena terlalu mendiskriminasi dan sama sekali tidak
menggambarkan Etnis Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam di Indonesia.
Sebagian besar informan yang berada dalam posisi negosiasi menunjukan bahwa
mereka menerima pesan SARA yang dibawakan dalam konteks humor namun tetap
menganggap diskriminasi terjadi di dalamnya. Hasil penelitian observasi menunjukkan
bahwa khalayak sepakat dengan sebagian pesan media dan memiliki aturan khusus
karena mereka berasal dari etnis, usia, serta pendidikan yang berbeda. Hal ini
menunjukan bahwa mitos mampu mendistorsi pesan SARA sehingga dapat diterima
oleh khalayak namun tidak secara dominan, karena khalayak juga memproses pesan
bedasarkan latar belakang, pengalaman, serta kondisi sosial mereka, akibatnya
walaupun informan menerima sebagaian pesan yang ditawarkan media namun mereka
tetap menganggap video tersebut merupakan bentuk diskriminasi terhadap Etnis
Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam yang ada di Indonesia.

Keywords: analisis resepsi, humor, SARA

Article Metrics: