Pemaknaan Peran Perempuan di Parlemen(Analisis Semiotika dalam Berita Online Tempo.co dan Kompas.com)

Published: 3 Jul 2015.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 48 53
Abstract

Penelitian ini berdasarkan pada tidak tercukupinya kuota 30% pada kebijakan
affirmative action. Kurangnya keterwakilan perempuan di kursi parlemen
diakibatkan oleh rendahnya tingkat elektabilitas perempuan. Media sebagai sarana
informasi dan edukasi memberitakan perempuan di parlemen dengan tidak
seimbang. Pemberitaan tentang perempuan di parlemen tidak berkaitan dengan
kontribusi dan potensi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi
perempuan yang ditampilkan melalui teks berita dari kedua portal berita tersebut
dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakangi terjadinya
penggambaran perempuan tersebut.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada
paradigma kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Ekologi
Media, konsep cultural studies, dan konsep feminisme liberal. Teknik analisis
yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes yang mengacu pada
lime kode pembacaan. Subjek penelitian yaitu sepuluh teks dari portal berita
online Tempo.co dan Kompas.com.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam teks berita online tersebut
pemberitaan perempuan tidak fokus pada hasil kontribusi perempuan pada saat
menjabat sebagai anggota parlemen. Berita perempuan di parlemen tidak
termasuk dalam berita headline atau berita utama. Pemberitaan tentang
perempuan lebih banyak masuk dalam kategori berita hiburan. Kontribusi dan
pencapaian perempuan di parlemen hanya dibahas sekilas dalam berita, yang
menjadi fokus dalam pemberitaan yaitu kehidupan pribadi, penampilan
perempuan, dll. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pemberitaan tersebut
menggunakan bahasa yang bermakna halus tetapi kesan yang timbul dalam berita
justru negatif. Terdapat modal ekonomi, modal sosial dan modal kultural dalam
pemberitaan peran perempuan di parlemen. Modal yang paling sering muncul
dalam pemberitaan tersebut yaitu modal kultural, dimana penampilan dan status
perempuan menjadi syarat penting untuk menjadi anggota legislatif. Pemberitaan
menampilkan seolah-olah perempuan tidak mampu duduk di kursi parlemen tanpa
modal-modal tersebut.

Keywords: berita online, affirmative action, modal, feminisme liberal

Article Metrics: