skip to main content

NEGOSIASI IDENTITAS KULTURAL TIONGHOA MUSLIM DAN KELOMPOK ETNISNYA DALAM INTERAKSI ANTARBUDAYA


Citation Format:
Abstract

Umumnya masyarakat mengganggap individu berdasarkan budaya dominan yang dilekatkan pada kelompok
etnisnya. Tionghoa diidentikkan dengan selain Islam, dan Islam dianggap sebagai perwakilan agama pribumi
yang direpresentasikan seperti pribumi itu sendiri, yakni : bodoh, malas, terbelakang (Afif, 2012 : 203).
Selain itu, kebijakan Belanda atas penentuan wilayah tempat tinggal pribumi dan Tionghoa, serta
pengelompokkan etnis di zaman kolonial memicu berkembangnya stereotip,dan etnosentrisme. Dampaknya,
terdapat anggapan di kalangan Tionghoa jika menjadi muslim, maka menurunkan martabat mereka, sehingga
memicu diabaikannya Tionghoa yang menjadi muslim di kalangan etnisnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan dan pengalaman Tionghoa muslim terhadap
identitas kulturalnya, dan bagaimana pengalaman menegosiasikannya. Metodologi penelitian yang digunakan
adalah tipe kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan proses pengalaman
Tionghoa muslim dalam menegosiasikan identitas kulturalnya dengan kelompok etnisnya. Penelitian ini juga
didukung oleh Teori Pengelolaan Identitas, Teori Negosiasi Identitas dari Stella Ting - Toomey, dan Co
Cultural Theory. Selain ketiga teori tersebut, terdapat penambahan konsep yaitu pengungkapan diri. Informan
dalam penelitian ini, terdiri dari Tionghoa muslim dan Tionghoa non muslim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses negosiasi identitas kultural yang terjadi dipengaruhi
oleh kemampuan individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan individu dalam proses menuju
negosiasi identitas juga dipengaruhi faktor pengungkapan diri itu sendiri, seperti : besar kelompok, topik, dan
jenis kelamin. Kemudian, faktor kondisi dari intercultural communication ini, seperti kecenderungan
interaksi dan pemahaman (lebih) terhadap suatu hal, ikut serta memengaruhi penunjukkan identitas kultural.
Selain itu, kecenderungan informan dalam penelitian ini memiliki upaya pengolahan stereotip melalui sikap
proaktif, sehingga memberikan pemahaman yang cukup baik dalam memaknai Islam, kultural Tionghoa, dan
posisi diri mereka masing-masing. Akhirnya, pemahaman tersebut membantu mereka dalam proses negosiasi
identitasnya sesuai dengan tujuan yang mereka harapkan. Di antara ketiga kategori tujuan yang diungkapkan
Orbe dalam Co Cultural Theory, menunjukkan bahwa kedua informan Tionghoa muslim berhasil mencapai
tujuan akomodasi, satu informan Tionghoa muslim memilih tujuan asimilasi, dan satu informan lainnya
menetapkan tujuannya ke separasi. Kemudian, hal yang dianggap sebagai penyebab terhambatnya negosiasi
tidak terlalu memengaruhi karena minimnya interaksi di antara kedua belah pihak yang menjadi informan
dalam penelitian ini.
Kata kunci : Tionghoa muslim, Negosiasi, Identitas Kultural

Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.