Komunikasi untuk Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

Published: 29 Sep 2014.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya angka kekerasan seksual pada
anaksetiap tahunnya. Salah satu hal yang mempengaruhi fenomena tersebut adalah
kurangnya pengetahuan anak mengenai topik seksualitas, sehingga anak sulit
mengenali bahwa yang terjadi padanya merupakan bentuk kekerasan seksual.
Kekerasan seksual yang terjadi pada anak dapat dicegah dengan cara melakukan
komunikasi mengenai pendidikan seks pada anak sedari dini. Orangtua sebagai
anggota keluarga yang berkewajiban menumbuhkan nilai-nilai anak, seharusnya
lebih memiliki peran dalam melakukan komunikasi tersebut. Realitas yang t erjadi,
beberapa orang tua yang masih merasa tabu dalam membicarakan topik-topik
seksualitas pada anak, menjadikan hambatan tersendiri bagi komunikasi dapat
berjalan dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan komunikasi antara orangtua dan
anak usia dini dalam kaitannya dengan pendidikan seks. Peneliti menggu nakan
pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi
fenomenologi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dialogue Theory,
Rule’s Theory, Role’s Theory dan Family Communication Patterns Theory.Teknis
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada metode
fenomenologi dari Von Eckartsberg. Subjek penelitian ini adalah informan yang
memiliki anak usia dini (0-5 tahun).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki aturan-aturan
terutama dalam melakukan pendidikan seks. Aturan dibedakan menjadi dua yaitu
secaraeksplisit dan implisit, aturan secara eksplisit berupa kegiatan diskusi antara
orang tua dan anak mengenai topik-topik seksualitas, sedangkan secara implisit
berupa aturan yang tidak tampak jelas, seperti mengatur pakaian yang digunakan
anak untuk menghindari terjadinya pelecehan seksual. Perasaan tabu menjadi
hambatan bagi orang tua untuk melakukan pendidikan seks pada anak usia dini.
Orang tua yang merasa tabu dalam membicarakan seksualitas pada anaknya, mereka
cenderung menghindari dalam membicakan topik-topik seperti pemerkosaan,
pencabulan dan bentuk-bentuk hubungan intim lainnya. Sedangkan orang tua yang
tidak merasa tabu melakukan pendidikan seks, tidak memiliki batasan dalam
membicarakan topik seksualitas pada anak. Eufemisme dapat digunakan untuk
meminimalisir adanya hambatan komunikasi berkaitan dengan perasaan tabu dalam
membicarakan seksualitas.
Keyword: Komunikasi keluarga, Pendidikan Seks, Dialog

Article Metrics: