Performativitas Gender dalam Film The Kids Are All Right Karya Lisa Cholodenko

Yohanes Erik Wibawa, Dr Sunarto, Hapsari Dwiningtyas, Lintang Ratri Rahmiaji

Abstract


Konsep heteronormativitas tidak memberikan ruang dan toleransi terhadap bentuk
gender-gender lain kecuali laki-laki dan perempuan dan heteroseksual dianggap
sebagai hubungan yang paling alamiah. Judith Butler, seorang pasca strukturalis,
menolak dualisme gender tersebut yang secara sosial sangat sulit ditinggalkan.
Film The Kids Are All Right karya Lisa Cholodenko ini mencoba keluar dari nilai-nilai heteronormatif tersebut dengan menampilkan pasangan lesbian yang telah
berkeluarga lengkap dengan kehadiran anak-anak.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pembuat film
dalam melakukan naturalisasi pasangan lesbian dalam konteks sosial keluarga dan
mengungkap nilai-nilai dalam kultur dominan (heteronormatif) yang tidak bisa
dilepaskan oleh film ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis sintagmatik dan
paradigmatik dengan menggunakan lima kode pokok pembacaan teks.
Strategi film dalam melakukan naturalisasi dengan menunjukkan bahwa
pasangan homoseksual (lesbian) bisa memiliki anak sendiri, anak-anak yang
diasuh oleh pasangan lesbian bisa berprestasi dan mempunyai tumbuh kembang
yang baik, ikatan emosional anak-anak dengan orang tua maupun antar individu
lesbian ketika sedang berkonflik (ditunjukkan melalui ekspresi menangis, marah,
dan kecewa), adegan-adegan romantic relationship pasangan lesbian (berciuman,
berpelukan, bergandengan tangan, dan bercinta), adanya transformasi nilai-nilai
sosial dari orang tua ke anak-anak, dan orientasi seksual orang tuanya tidak
mempengaruhi orientasi seksual anak-anaknya (walaupun masih menunjukkan
adanya melancholic heterosexuality). Kecenderungan heteronormativitas terletak
pada konstruksi praktek sosial dan kategori gender yang sifatnya tidak hanya
dikotomis tetapi juga hirarkis melalui hadirnya simbol butch (dominasi maskulin)
dan femme (peran domestik feminin). Film ini juga menunjukkan resistensi
terhadap heteronormativitas dengan menampilkan kategori gender dan seksualitas
yang cair. Performativitas gender disini adalah sesuatu yang kompleks karena
bukan hanya sekadar imitasi bagaimana gender yang seharusnya ditampilkan oleh
tokoh-tokoh dalam film, tetapi bukan usaha untuk menghindari pengulangan
terhadap model heteronormativitas tentang bagaimana laki-laki dan perempuan
seharusnya.
Kata kunci : gender, seksualitas, film


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung