Memahami Identitas Hibrida pada Komik Indonesia Kontemporer (Analisis Semiotika Komik Garudayana)

Luthfi Fazar Ridho, Hedi Pudjo Santosa, Taufik Suprihatini, Triyono Lukmantoro

Abstract


Terbitnya Garudayana sebagai bagian dari komik Indonesia kontemporer yang mengadopsi
dua identitas budaya berbeda bangsa, yaitu wayang (lokal) dan manga (Jepang), menjadikan
komik ini memiliki identitas hibrida dalam gaya penyajiannya, di mana unsur wayang
terdapat pada keterlibatan tokoh-tokoh populer wayang. Sedangkan unsur manga menonjol
pada gaya gambar dan elemen visual.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari keterpengaruhan komik Garudayana dari
manga Jepang dan mendeksripsikan komik Garudayana sebagai media alternatif. Peneliti
menggunakan paradigma konstruktivis dan tradisi semiotika dan sub-tradisi pictorial
semiotics untuk mengkaji konten komik Garudayana dan mendeskripsikan setiap tanda
intrinsik yang mengandung identitas hibrida pada Komik Garudayana yang memiliki
kemiripan/ keserupaan dengan tanda-tanda yang ada pada manga. Teori yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Teori Komik Scott McCloud (2006: 49), Teori Identitas Hibrida
dari Keri Lyall Smith (2008: 4-6), dan Teori Pictorial Semiotics dari Goran Sonesson (1998:
1)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Garudayana memiliki elemen identitas hibrida
berupa: tema cerita wayang lakon carangan Mahabharata; tokoh-tokoh Pandawa, Ponokawan
dan Kurawa; konsep dan penggambaran visual latar tempat yang sesuai dengan kondisi
geografis Indonesia; konsep tokoh antagonis berupa monster humanoid (yang menyerupai
manusia) dari binatang-binatang khas Nusantara; dan panel komik dekoratif khas Nusantara
yang memperkuat kesan lokalitas Indonesia. Elemen tersebut bercampur dengan manga
sebagai gaya gambar dan identitas kultural Jepang yang memiliki elemen identitas hibrida
berupa kode visual dan kode linguistik. Percampuran dua elemen identitas kultural tersebut
disebut hibriditas.
Dalam rangkaian proses hibriditas, terdapat elemen intertekstualitas dan penokohan
berdasarkan jenis kelamin yang dipengaruhi oleh Mahabharata sebagai pakem secara tidak
langsung satu sama lain. Keseluruhan proses tersebut menghasilkan Garudayana sebagai
komik yang memiliki identitas hibrida dan dianggap sebagai media alternatif karena memiliki
Mode of Address dan sifat-sifat Media alternatif.
Keywords : Komik, Wayang, Identitas Hibrida, Garudayana


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung