INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP GAYA BERHUMOR SENTILAN SENTILUN

Kevin Devanda Sudjarwo, Hedi Pudjo Santosa, Adi Nugroho, Triyono Lukmantoro

Abstract


Humor telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari manusia, bisa dibilang sebagai bentuk paling dasar, sederhana, dan tua dari hiburan. Humor telah mewarnai aktivitas kita sehari-hari, mulai dari interaksi sosial hingga mewarnai media massa. Humor menjadi produk dari televisi dalam kemasan komedi, Sentilan Sentilun salah satunya. Acara yang ditayangkan oleh Metro TV ini merupakan talk show dengan genre politainment. Dipandu oleh Slamet Rahardjo dan Butet Kertaradjasa, acara ini membahas kondisi sosial dan politik Indonesia dari sudut pandang humor. Sentilan Sentilun mengajak khalayaknya untuk menertawakan keganjilan kondisi sosial dan politik. Mereka bergunjing mengenai pembesar-pembesar negara yang korup, mewakili uneg-uneg dan ketidakpuasan yang ada pada masyarakat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak terhadap gaya berhumor Sentilan Sentilun. Bagaimana mereka memaknai pesan yang diberikan berdasar kerangka pikirnya masing-masing, gaya berhumor yang seperti apa yang kemudian membuat mereka tertawa. Berangkat dari hal-hal tersebut maka penelitian ini menggunakan pendekatan analisis resepsi dari Stuart Hall. Data diperoleh dari studi kepustakaan dan teknik indepth interview. Yang menjadi subyek penelitian ini adalah empat narasumber dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda, guru, seniman, dan mahasiswa dengan latar belakang budaya Jawa, dan seorang fresh graduated dengan latar belakang budaya Minang. Yang diharapkan dari keempat narasumber tersebut adalah keragaman jawaban dan pendapat yang kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasar teori Stuart Hall.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan keempat narasumber sebagai khalayak Sentilan Sentilun benar dipengaruhi oleh kerangka pikir mereka masing-masing. Narasumber menyadari bahwa apa yang dilakukan Sentilan Sentilun merupakan bentuk representasi dari apa yang mereka juga lakukan dalam kehidupan sehari-hari, menggunjingkan para pembesar negara dengan humor. Dan bagaimana pada dasarnya mereka menunjukkan sikap suportif terhadap apa yang dilakukan Sentilan Sentilun tersebut. Dalam hal mengapa Sentilan Sentilun memilih untuk menggunakan humor terdapat perbedaan pendapat tetapi juga mereka menunjukkan kesetujuan bahwa humor dipakai untuk membuat topik yang sensitif dan tabu menjadi lebih sopan, tidak terlalu “menusuk”, dan mendatamgkan penerimaan. Maka dari itu, humor pada akhirnya menjadi semacam bentuk kontrol sosial bagi siapa saja khususnya para pelaku dunia sosial dan politik Indonesia.

 

Keywords: humor, interpretasi, media, Sentilan-Sentilun.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung