skip to main content

Resistensi Pelecehan Seksual dalam Film Bombshell

*Fransisca Putri Kirana  -  Prodi S1 Ilmu Komunikasi
Sunarto Sunarto  -  Prodi S1 Ilmu Komunikasi

Citation Format:
Abstract
Pelecehan seksual sering menimpa kaum perempuan, tak terkecuali terjadi pada Negara yang sudah maju seperti Negara Amerika Serikat. Amerika Serikat telah memiliki undang-undang yang membahas tentang pelecehan seksual terhadap perempuan, yakni yang tertuang dalam Undang-Undang Hak Sipil 1991, Judul VII yakni memperluas hak-hak perempuan untuk menuntut dan mengumpulkan ganti rugi termasuk ganti rugi untuk perlakuan diskriminasi atau pelecehan seksual. Tercatat pada laporan yang dibuat pada tahun 2019 melalui gerakan #MeToo, sebanyak 81% kaum perempuan di Amerika Serikat mengalami pelecehan seksual. Walaupun, Amerika Serikat memiliki undang-undang yang telah mengatur tentang hokum pelecehan seksual, sayangnya masih banyak ditemukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Baik pelecehan seksual secara verbal hingga kasus pemerkosaan. Hal tersebut dikarenakan, korban pelecehan seksual merasa takut untuk melaporkan pelaku, takut terancam keamanannya, dan masih jarang kasus pelecehan seksual terhadap perempuan yang dibahas oleh masyarakat. Film dirasa sebagai media massa yang memiliki peran untuk mempengaruhi masyarakat, karena di dalam alur ceritanya terdapat pesan yang ingin disampaikan. Penelitian yang berjudul “Resistensi terhadap Pelecehan Seksual dalam Film Bombshell” bertujuan untuk mendeskripsikan penggambaran pelecehan seksual terhadap perempuan dalam film Bombshell, dan melihat ideologi dominan didalamnya. Teori yang dipakai yakni teori Standpoint, guna melihat tindakan perlawanan yang dilakukan oleh perempuan, ketika mengalami pelecehan seksual. Penelitian ini merupakan tipe penelitian deskriptif, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi perempuan terhadap pelecehan seksual dalam film “Bombshell” dapat dilihat melalui analisis semiotika Roland Barthes yakni leksia yang dipilih. Faktor yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual, yakni faktor ideologi dominan yang masih berlaku di masyarakat, ideologi patriarki yang berlaku memberi kekuasaan pada pria untuk menindas perempuan yang dianggap sebagai kaum yang lemah. Rekomendasi dari penulis, agar kedepannya film banyak mengangkat isu pelecehan seksual untuk memberikan cara pandang baru bagi masyarakat untuk menanggapi pelecehan seksual merupakan hal yang serius dan pelaku harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.
Fulltext View|Download
Keywords: pelecehan seksual, resistensi, dan ideologi dominan

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.