KOMUNIKASI SENIOR DAN JUNIOR PADA KELOMPOK PELAJAR DALAM UPAYA MEMPERTAHANKAN BUDAYA TAWURAN

Published: 21 Mar 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 1248 153
Abstract
Latar BelakangDi sekolah yang kerap terlibat aksi tawuran terdapat kelompok pelajar informal yang anggotanya terdiri dari senior dan juga junior. Senior memiliki peranan penting dalam mempertahankan keberadaan aksi tawuran pelajar. Senior melakukan komunikasi dengan juniornya untuk menyampaikan berbagai pesan yang umumnya dilaksanakan pada kegiatan- kegiatan tertentu yang telah menjadi tradisi di sekolah tersebut. Budaya tawuran pelajar seakan sengaja dibentuk dan diturunkan kakak- kakak kelas kepada siswa yang baru masuk sekolah, agar tradisi tersebut tetap terjaga. Biasanya, siswa yang baru masuk diajarkan melakukan tawuran di hari terakhir seusai Masa Orientasi Sekolah (MOS).Senior pada kelompok pelajar di setiap sekolah memiliki tradisi yang berbeda dalam melakukan komunikasi kepada juniornya. Namun cara senior dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan cenderung bersifat koersif. Komunikasi koersif merupakan proses penyampaian pesan (pikiran dan perasaan) oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang atau kelompok lain untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dengan gaya yang mengandung paksaan (Effendy,1992: 83-84). Senior cenderung melakukannya disertai dengan ancaman bahkan juga menggunakan kekerasan agar pesan- pesan tersebut diterima. Banyak pesan yang disampaikan selain rasa cinta terhadap sekolah seperti diantaranya adalah penanaman identitas sosial, norma- norma yang berlaku di dalam pergaulan yang mengatur hubungan dan perilaku mereka dalam kelompok, juga stereotip terhadap sekolah- sekolah tertentu yang dianggap „rival‟ dan harus dimusuhi.Komunikasi antara senior dan junior dalam kelompok dapat dilihat seperti sebuah pertukaran antara manfaat yang diperoleh dan pengorbanan yang dikeluarkan. Hubungan antara dua pihak tersebut mirip dengan pertukaran ekonomis dimana orang merasa puas ketika mereka menerima kembalian yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West and Turner, 2008: 217). Senior dapat tampil sebagai pihak yang memiliki kekuasaan dan kekuatan atas juniornya, menerapkan senioritas, dan dapat menurunkan nilai- nilai yang berlaku dalam kelompoknya. Namun mereka juga mengeluarkan pengorbanan yakni memperoleh perlakuan yang sama dariseniornya ketika mereka masih menjadi junior. Sedangkan junior mengeluarkan pengorbanan atau biaya berupa bersedia melakukan tawuran dan diposisikan di garis depan, mengikuti kegiatan- kegiatan yang ditetapkan oleh senior, serta mematuhi norma- norma yang berlaku. Junior juga memperoleh keuntungan atau ganjaran berupa diterima dan diakui sebagai bagian dari kelompok. Menjadi bagian dari kelompok memberikan kebanggaan bagi mereka, karena memperoleh prestige dari keanggotaannya terebut. Pelajar yang menjadi bagian kelompok tersebut umumnya menjadi populer dan lebih eksis dibandingkan dengan yang tidak bergabung dengan kelompok tersebut.Terkadang tawuran pelajar terjadi secara spontan ketika dua kelompok pelajar secara sengaja maupun tidak sengaja bertemu atau berpapasan di sebuah tempat. Namun terkadang tawuran terjadi karena dipicu oleh alasan sederhana seperti balas dendam karena ada pelajar yang diganggu oleh pelajar dari sekolah lain, keributan setelah pertandingan, atau hanya karena saling ejek. Bahkan seringkali tawuran terjadi karena sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi pada hari- hari tertentu di tempat yang menjadi titik rawan tawuran.Hampir setiap minggu terjadi tawuran di berbagai tempat, sehingga menggelisahkan masyarakat. Sarana umum seperti gedung, bus, dan sebagainya rusak berat akibat ulah oknum-oknum pelajar itu. Korban pun berjatuhan dari luka ringan, berat hingga tewas. (Yayasan penerus nilai-nilai perjuangan 1945,1998: 67). Dapat terlihat dengan jelas bahwa dampak tawuran merugikan banyak pihak, baik dari pelajar itu sendiri, sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Tawuran menjadi sebuah permasalahan sosial yang tidak kunjung usai hingga saat ini.II. Perumusan MasalahAnggota dalam kelompok pelajar senantiasa selalu berganti setiap tahunnya, namun aksi tawuran pelajar tetap terjadi, bahkan jumlah kasus yang terjadi cenderung besar dan korban yang berjatuhan meningkat. Hal tersebut terjadi karena adanya komunikasi yang dilakukan oleh senior ke juniornya dalam mentransmisikan budaya kelompoknya termasuk tawuran dari generasi ke generasi. Senior sebagai pihak yang terlebih dahulu menjadi bagian dalam kelompok berperan dalam menyampaikan budaya kelompoknya tersebut kepada junior. Maka permasalahan dalampenelitian ini adalah bagaimana pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam upaya mempertahankan budaya tawuran?III. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi antara senior dan junior pada kelompok pelajar, khususnya dalam upaya mempertahankan budaya tawuran.IV. Signifikansi penelitian1. Signifikansi teoritisSecara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam pengembangan pemikiran teoritis menggunakan teori komunikasi koersif dan pertukaran sosial (social exchange theory).2. Signifikansi praktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menjadi rujukan dalam memahami pengalaman komunikasi yang terjadi antara senior dan junior pada kelompok pelajar dalam mempertahankan budaya tawuran.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan sosial. Tawuran sendiri merupakan fenomena konflik antar kelompok pelajar yang tidak kunjung usai hingga saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membantu mencari alternatif solusi dalam permasalahan tersebut.V. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data primer dikumpulkan menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) kepada 8 informan yang terdiri atas 4 senior dan 4 junior dari 2 sekolah yang berbeda di Jakarta Selatan, sedangkan data sekunder diperoleh dari media massa dan data kepolisian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis data pada pendekatan fenomenologi Moustakas (dalam Creswell, 2007:159).VI. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh senior dan junior dalam kelompok pelajar memiliki tujuan tertentu yakni sebagai upaya untuk mempertahankan budaya kelompok termasuk tawuran. Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior.Selain itu, senior melakukan beberapa teknik komunikasi persuasif yaitu pay off idea dan fear arousing. Pay off dilakukan dengan memberikan harapan kepada junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian kelompok serta dapat menggantikan posisi seniornya kelak. Sedangkan fear arousing dilakukan dengan memanfaatkan ketakutan junior atas konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi hal yang disampaikan senior yaitu berupa hukuman mulai bentakan hingga kekerasan fisik.Junior tidak secara instan menerima budaya yang ditransmisikan oleh senior, melainkan diawali dengan keterpaksaan serta rasa takut terhadap senior. Namun, lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.Dalam hubungan antara senior dan junior dalam kelompok, terdapat pertukaran sosial meliputi pengorbanan yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima. Penerapan senioritas merupakan imbalan bagi senior dan merupakan pengorbanan dari junior. Dari hal tersebut, junior memperoleh imbalan dengan diakui sebagai bagian dari kelompok. Tidak semua junior memperoleh perlakuan yang sama dari seniornya, hanya mereka yang ditunjuk atau memang menginginkan keanggotaan dalam kelompok saja. Bagi junior yang merasa memperoleh keadilan dalam hubungannya dengan senior akan terus bertahan dalam kelompok, dan juga sebaliknya.Tawuran pelajar merupakan budaya yang diturunkan oleh senior sebagai upaya untuk melindungi sekolah luar dan dalam. Senior mengenalkan bahkan memberikan didikan kepadajuniornya mengenai tawuran. Solidaritas sesama teman, stereotip, dan ‘sense of belonging’ yang sangat kuat terhadap kelompok serta sekolahnya merupakan faktor pendorong bagi pelajar untuk tawuran. Namun, meskipun menanamkan budaya tawuran pada junior, senior menganggap bahwa saat ini tawuran tidak lagi perlu untuk dilakukan karena telah banyak menimbulkan korban. Tawuran hanya berguna untuk melindungi diri dan kesenangan masa remaja saja.VII. Bagan TeoritikVIII.IX.X.XI.Pertukaran Sosial Senior dan Junior dalam Kelompok Pelajar Cost RewardSeniorMemperoleh perlakuan yang sama saat juniorPenerapan senioritas Junior Penerapan Senioritas Diterima sebagai anggota kelompokKomunikasi Koersif (senior menggunakan paksaan dan ancaman dan kekerasan fisik)Komunikasi persuasif (Teknik pay off dan fear arousing)•kesediaan junior untuk diberikan pengaruh oleh seniorComplience•junior mulai melakukan hal-hal yang disampaikan oleh senior.Identification•pengaruh yang diberikan senior terinternalisasi pada diri juniorInternalizationTawuran sebagai Budaya Kelompok stereotipsolidaritaskonformitas normaDAFTAR PUSTAKAAdler, Ronald B dan Rodman, George. 2006. Understanding Human Communication, 9th Edition. New York: Oxford University PressAlwasilah, A Chaedar. 2000. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka JayaAw,Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha IlmuAzwar, Saifuddin. 1995. Sikap manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta: pustaka pelajarBaxter, Leslie A dan Babbie, Earl. 2004. The Basics of Communication Research. The University of OtawaBeebe, Steven A dan Masterson, John T. 2003. Communicating in Small Groups: Principles dan Practices, 7th Edition. USA: Pearson Education, IncCreswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsDenzim, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. 2000. Qualitative Research, 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publication, IncDeVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia Edisi 5. Jakarta: Professional BooksEffendi, Onong Uchana. 1988. Hubungan Insani. Bandung: Remaja RosdakaryaEffendi, Onong Uchjana. 1992. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Mandar MajuEffendi, Onong Uchana. 1992. Ilmu Komunikasi, teori, dan praktek. Bandung: Remadja KaryaEffendi, Onong Uchana. 1992. Hubungan Masyarakat. Bandung: Remadja KaryaHuraerah, Abu & Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok: Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika AditamaHurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta: ErlanggaKriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaKuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran Liaw, Ponijan. 2005. Understanding Your Communication Style. Jakarta: PT Elex Media KomputindoLiliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LkiSLittlejohn, Stephen W. 1999. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 6th Edition. USA: Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, 9th Edition. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja RosdakaryaPratikto, Riyono. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja KaryaRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural: kompetesi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta: Pustaka PelajarRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja RosdakaryaSobirin, Achmad. 2007. Budaya Organisasi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan sekolah tinggi ilmu manajemen YKPNSusetyo, Budi D. P. 2010. Stereotip dan Relasi Antar Kelompok. Yogyakarta: Graha IlmuSunarjo dan Sunarjo, Djoenaesih S. 1983. Komunikasi, Persuasi, dan Retorika. Yogyakarta: LibertyTubbs, Steward L & Sylvia Moss. 2005. Human Communication: Konteks-konteks komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Buku 1. Jakarta: Salemba HumanikaWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: GrasindoYayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945. 1998. Reformasi Pendidikan Mencegah Kenakalan Remaja antar Pelajar. Jakarta: Yayasan Penerus Nilai- Nilai Perjuangan 1945.Yusuf, Yusman. 1989. Dinamika Kelompok. Bandung: Armiko.Skripsi:Iffah Irsyadina. 2007. ”Komunikasi Persuasif Pendamping dalam Program Pendampingan Anak Jalanan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangRini, Yohana Susetyo. 2011. “Komunikasi Orangtua- Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Diponegoro. SemarangReferensi dari Media:1. CetakKompas, 25 September 2012. “Tawuran SMA 1 tewas 2 luka”, hal 1.Kompas, 27 September 2012. “Keberingasan Pelajar Kian Meresahkan”, hal 1.Kompas, 19 Oktober 2012. “Sekolah Ramah Anak Atasi Tawuran”, hal 34.Kompas, 19 Oktober 2012. “Dari Juara Menjadi Tersangka”, hal 34.2. TelevisiRCTI, 27 September 2012. Seputar Indonesia Pagi.RCTI, 30 September 2012. Seputar Indonesia Petang.3. InternetAfriyanti, Desi dan Ruqoyah, Siti. (2011). Jejak Bentrok SMA 6 dan SMA 70. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248472-jejak-bentrok-sma-6-dan-sma-70 diakses pada 11 Januari 2013Amelia, Mei. (2012). 5 Pelajar Tewas dalam Tawuran Sepanjang Januari-September 2012. Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/27/160351/2040707/10/5-pelajar-tewas-dalam-tawuran-sepanjang-januari-september-2012 diakses pada 11 Januari 2013Berindra, Susie. (2011) Tawuran: Tradisi Buruk Tak Berkesudahan. Dalam http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/23/10210953/Tawuran.Tradisi.Buruk.Tak.Berkesudahan diakses pada 8 Mei 2012Cara Menanggulangi/ Mengatasi Tawuran Antar Siswa Pelajar SD, SMP, SMK, SMK, dll. (2011). Dalam http://organisasi.org/cara-menanggulangi-mengatasi-tawuran-antar-siswa-pelajar-sekolah-sd-smp-sma-smk-dll diakses pada 30 April 2012Daniel, Wahyu. 2011. Pelajar SMA 70 dan SMA 6 Tawuran di GOR Bulungan, Tiga Luka. Dalam http://news.detik.com/read/2011/07/15/232328/1682402/10/pelajar-sma-70-sma-6-tawuran-di-gor-bulungan-tiga-luka diakses pada 11 Januari 2013Edwin, Nala. (2012). Di Tengah Ujian Nasional, 4 Tawuran Terjadi di Jakarta. dalam http://news.detik.com/read/2012/04/18/175757/1895640/10/di-tengah-ujian-nasional-4-ta wuran-terjadi-di-jakarta diakses pada 11 Januari 2013More, Immanuel. (2011). tawuran Pelajar di Tengah Kemacetan. Dalam http://megapolitan. kompas.com/read/2012/07/18/2245554/Tawuran.Pelajar.di.Tengah.Kemacetan diakses pada 11 Januari 2013Muhaimin, Ramdhan. (2012). Awas! Tawuran Pecah antara SMA 70 vs SMA 6 di Bulungan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/03/09/195404/1863198/10/awas-tawuran-pecah-antara-sma-70-vs-sma-6-di-bulungan diakses pada 11 Januari 2013Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Sekolah. (2011). Dalam http://wartawarga.gunadarma. ac.id/2011/09/penyebab-terjadinya-tawuran-antar-sekolah/ diakses pada 3 Mei 2012Santosa, Bagus. (2012). Usai MOS, dua Tawuran Terjadi di Jakarta Selatan. Dalam http://jakarta. okezone.com/read/2012/07/18/500/665338/usai-mos-dua-tawuran-terjadi-jakarta-selatan diakses pada 30 April 2012Setiawan, Aris dan Ruqoyah, Siti. (2011). Tawuran SMA 70 dan SMA 6 Warisan Puluhan Tahun. Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/248410-tawuran-sma-70-dan-sma-6-warisan diakses pada 11 Januari 2013Setiawan, Bambang Budi. (2011). Tawuran Antar Pelajar di Jakarta. Dalam http://www.indosiar.com/ragam/salah-satu-potret-bangsa-kita-21384.html diakses pada 3 Mei 2012SMA 70 dan SMA 87 Jakarta Terlibat Tawuran. (2012). Dalam http://www.metrotvnews. com/read/newsvideo/2012/04/25/149827/SMA-70-dan-SMA-87-Jakarta-TerlibatTawuran diakses pada 8 Mei 2012Supandi, Arofah. (2011). Ratusan Pelajar ditangkap di Blok M. Dalam http://berita.liputan6.com/read/366562/ratusan-pelajar-ditangkap-di-blok-m diakses pada 10 Mei 2012Surjaya, Abdullah M. (2012). Tawuran Pelajar, Satu Tewas Dua Kritis. Dalam http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/492125/ diakses pada 8 Mei 2012 Triyuda, Pandu. (2012). Berkas 6 Tersangka Tawuran Pancoran dilimpahkan ke Kejaksaan. Dalam http://news.detik.com/read/2012/11/09/163954/2087490/10/berkas-6-tersangka-tawuran-pancoran-dilimpahkan-ke-kejaksaan diakses pada 11 Januari 2013Wahono, Tri . (2011). Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan. Dalam http://nasional. Kompas. com/read/2011/12/21/06110685/Kehidupan.Pelajar.di.Jakarta.Meresahkan diakses pada 30 April 2012Wirakusuma, K. Yudha. (2011). 105 siswa SMKN 29 Jakarta ditangkap, 4 Bom Molotov Disita. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/12/08/338/539868/105-siswa-smkn-29-jakart- ditangkap-4-bom-molotov-disita diakses pada 11 januari 2013

Article Metrics: