Strategi Personal Branding Young Lex melalui Pembentukan Imej Negatif dan Pengelolaan Haters

*Luki Viali Tobing  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Hapsari Dwiningtyas Sulityani  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Published: 2 Oct 2018.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 324 1294
Abstract
Ada berbagai cara bagi public figure di dunia hiburan untuk mengembangkan karirnya. Salah satunya adalah strategi personal branding dari seorang artis itu sendiri. Young Lex adalah salah satu nama terdepan di industri hiburan berbasis internet zaman sekarang, khususnya di bidang musik hip hop. Namun, nama Young Lex dekat dengan kontroversi dan haters. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi personal branding yang dilakukan Young Lex dengan menggunakan studi kasus. Teori yang digunakan adalah Teori Dramatisme dari Kenneth Burke yang menggunakan Pentad Dramatisme. Teori Dramatisme sendiri adalah teori retorika konvensional yang cenderung memusatkan perhatian pada bagaimana wacana memengaruhi cara orang berpikir. Pentad Dramatisme adalah sebuah metode utama dari Teori Dramatisme yang digunakan untuk menganalisis penggunaan simbol pada komunikasi untuk mengidentifikasi diri seseorang dengan khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi personal branding yang dilakukan Young Lex terjadi melalui lima aspek Pentad Dramatisme yang saling berkaitan. Diantaranya adalah agen, agensi, adegan, tindakan, dan tujuan. Young Lex sebagai agen, melakukan tindakan melalui bermacam-macam agensi pada adegan yang berbeda-beda namun tetap dengan konsistensi tujuan yang sama. Konsistensi tujuan ini sebenarnya ia jadikan sebagai strategi personal branding. Maka dari itu, imej negatif dan pengelolaan haters yang Young Lex lakukan, terjadi karena pembentukan karakter dari Young Lex, sang agen itu sendiri.
Keywords: Personal Branding, Dramatisme, Imej Negatif, Haters, Young Lex

Article Metrics: