Memahami Manajemen Konflik dalam Perkawinan Beda Bangsa

*Yobelta Kristi Ayuningtyas  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Turnomo Rahardjo  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Published: 28 Jun 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 67
Abstract
Perbedaan budaya dalam diri pasangan perkawinan beda bangsa bisa memicu timbulnya konflik di dalam rumah tangga. Pasangan perlu melakukan manajemen konflik yang efektif agar menghasilkan keluaran konflik yang menguntungkan kedua belah pihak. Penelitian ini bertujuan memahami manajemen konflik yang dilakukan pasangan perkawinan beda bangsa di dalam rumah tangga. Teori yang digunakan yaitu Teori Gaya Manajemen Konflik oleh R. R. Blake dan J. Mouton dalam konteks hubungan antar pribadi, serta Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa objek konflik dalam perkawinan beda bangsa tidak hanya yang berkaitan dengan urusan domestik rumah tangga seperti jadwal kegiatan pekerjaan pasangan dan tanggung jawab mengurus anak, objek konflik juga bersumber dari perbedaan budaya seperti dalam hal bahasa, gaya berkomunikasi, serta cara mendidik anak yang tidak sama. Lalu gaya manajemen konflik yang digunakan oleh pasangan dalam penelitian ini yaitu, gaya manajemen konflik kompromi dan menghindar. Informan dengan budaya individualistik memandang muka diri (self face) lebih penting sehingga upaya pemeliharaan muka dilakukan ketika menghadapi konflik. Informan dengan budaya kolektivistik, sementara itu, lebih cenderung melakukan upaya penyelamatan muka untuk melindungi dan memperbaiki muka diri dan muka lain (other face).
Keywords: konflik, manajemen konflik, perkawinan antar budaya, beda bangsa

Article Metrics: