PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI HYBRID MASCULINITY

*Ingrid Dyah Nastiti  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Hapsari Dwiningtyas Sulityani  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP
Published: 28 Mar 2018.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 137 278
Abstract
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemaknaan yang dilakukan oleh khalayak terhadap konstruksi hybrid masculinity dengan melihat acara reality survival show Produce 101 Season 2. Produce 101 Season 2 termasuk acara dari Korea Selatan yang banyak dikonsumsi dan ditonton oleh masyarakat Indonesia, padahal acara ini menampilkan bentuk maskulinitas yaitu hybrid masculinity yang cukup berbeda dan baru bagi masyarakat Indonesia karena berbeda dengan bentuk maskulinitas dominan yang selama ini telah dikenal. Jenis hybrid masculinity yang diteliti dalam penelitian ini adalah localized global/regional masculinity dan manufactured versatile masculinity. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk mengetahui makna – makna dominan atau preferred reading yang muncul dan analisis resepsi Stuart Hall untuk mengetahui pemaknaan khalayak, serta menggunakan teori khalayak aktif dan teori performativitas gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memiliki standar maskulinitas ideal yang sejalan dengan maskulinitas dominan, seperti memiliki rahang yang tegas dan tubuh yang tegap, tidak memiliki gaya rambut yang berlebihan, mampu menjaga penampilan, memiliki pembawaan yang tenang dan tidak berlebihan, serta mampu menghormati perempuan. Pemaknaan informan yang terdiri dari informan laki – laki dan perempuan terhadap konstruksi hybrid masculinity dalam acara Produce 101 Season 2 mengalami keberagaman dengan kecenderungan berada pada posisi dominan. Elemen yang paling banyak dimaknai dominan adalah elemen penampilan fisik yang dilihat dari bentuk tubuh berotot, badan yang tinggi dan keseluruhan penggabungan wajah kkonminam dengan tubuh berotot, dan elemen upaya mencapai penampilan fisik melalui olahraga, penggunaan masker wajah dan bercukur janggut. Selain itu, elemen yang paling banyak dimaknai secara negosiasi adalah elemen penampilan fisik yang dilihat dari tipe wajah kkonminam, elemen upaya mencapai penampilan fisik melalui penggunaan make up, dan elemen citra yang ditampilkan melalui gerak tubuh menarikan tarian grup perempuan. Sedangkan elemen citra yang ditampilkan melalui ekspresi dan suara yaitu penggabungan citra aegyo dan manly memiliki pemaknaan yang imbang antara posisi dominan, negosiasi, dan oposisi. Hal ini menunjukkan bahwa khalayak dapat setuju dan menegosiasikan laki – laki yang memiliki maskulinitas yang cukup berbeda dengan maskulinitas dominan yang sebelumnya mereka kenal, dan bahwa khalayak aktif karena mereka tidak serta merta mengintepretasikan dan menerima pesan yang disampaikan media begitu saja, namun dipertimbangkan dan dinegosiasikan sesuai dengan latar belakang dan kondisi masing – masing khalayak.
Keywords: pemaknaan khalayak, hybrid masculinity, preferred reading

Article Metrics: