Komik Kontemporer: Akulturasi Budaya pada Penokohan Karakter Komik Volt

*Aldio Cahyo Senoaji  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Undip
M. Bayu Widagdo, S.Sos, M.I.Kom  -  Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Undip
Published: 18 May 2017.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 123 60
Abstract
Volt merupakan komik yang diterbitkan oleh Skylar Comics pada tahun 2012. Penampilannya berbeda dengan komik-komik Indonesia lainnya seperti Mahabharata bahkan Godham dan Gundala. Pengaruh yang terdapat pada komik dan bentuk percampuran budaya yang terjadi pada komik merupakan hal yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan data temuan yang diolah dengan menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Pierce ditemukan bahwa akulturasi terjadi pada aspek visual, penokohan, cerita, dan bahasa. Hubungan tersebut berdasarkan hubungan antara signifier dengan signified. Aspek – aspek tersebut kemudian dikelompokkan kedalam tiga karakteristik tanda menurut Pierce yaitu icon, indeks, dan simbol. Berdasarkan hubungan antara signifier dengan signifier tersebut penelitian ini juga menjelaskan bahwa pada icon akulturasi terjadi pada visualisasi para tokoh, penggambaran kekuatan tokoh dan penggunaan bahasa sansekerta pada beberapa nama tokoh. Pada indeks akulturasi terjadi pada cerita, gagasan, konsep superhero, dan irrasionalitas cerita. Konsep superhero dan supervillain pada tokoh komik merupakan akultuasi yang terjadi pada simbol. Kesimpulan dari hasil penelitian memunculkan beberapa implikasi yang bermanfaat dari segi akademis, praktis, dan sosial. Salah satu manfaat penelitian adalah penelitian ini dapat menjadi referensi bagi para komikus yang ingin membuat komik dengan tema serupa dan masyarakat dapat menerapkan seni wayang dalam lingkup yang lebih luas.
Keywords: komik, akulturasi, superhero.

Article Metrics: