skip to main content

PEMAKNAAN AUDIENCE TERHADAP STAND-UP COMEDY INDONESIA DENGAN MATERI SUKU, AGAMA, RAS & ANTAR GOLONGAN (SARA)


Citation Format:
Abstract
Seperti yang dilakukan di kebudayaan Barat, sebagian besar Stand-UpComedy di Indonesia berisi tentang hal yang sifatnya menyinggung Suku,Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Komedian (comic) memandang haltersebut perlu berfungsi mengungkapkan kegelisahan seorang comic yangdihadapi sehari-hari. SARA adalah hal yang meresahkan membuat sensitif apabiladiperbincangkan apalagi dengan menyindir. Melalui humor adalah cara untukmengungkapkan menerima hal-hal yang meresahkan diri denganmenertawakannya. Penonton yang belum terbiasa melihat Stand-Up Comedytentunya akan lebih sensitif terhadap pembicaraan SARA maupun sindiranmasalah sosial dibandingkan yang lebih modern atau terbuka.SARA akhir-akhir ini muncul sebagai masalah yang dianggap menjadisalah satu menyebab gejolak sosial di negara kita. Ada beberapa hal yang perludicermati dalam masalah SARA adalah pemicu potensial timbulnya konflik sosialmenuju fanatisme kedaerahan, yang menggangap suku asalnya eksklusifdibanding lainnya, hal ini menimbulkan perpecahan dan kaum minoritas menjaditertekan dalam hidupnya.Melalui format Stand-Up Comedy, yang merasa dalam pihak minoritasatau sebagian kaum tertekan bisa menyuarakan apa saja keresahan yang dialami.Banyak comic membawakan materi SARA-nya, seperti Ernest Prakasa, seorangWNI keturunan Cina selalu membuka materi Stand-Up dengan materi tentangCina, Boris T. Manulang menceritakan bagaimana orang Batak distereotipkan dikota besar ataupun Pandji dengan menyindir perilaku umat muslim di Indonesia.Inilah menariknya Stand-Up Comedy atau komedi tunggal seringkalimeyinggung hal-hal yang berhubungan dengan identitas kesukuan, kelompok danagama. Kehadiran Stand-Up Comedy untuk menyegarkan dunia komedi diIndonesia, tapi juga menyadarkan kita untuk tidak sensitif terhadap kehidupankita. Stand-Up Comedy ini penuh dengan kritik tajam namun disampaikan dengankomedi yang segar.Masyarakat Indonesia berlatar belakang budaya yang berbeda, maka takterhindarkan terjadinya perbedaan gagasan dan budaya. Para pelaku Stand-UpComedy Indonesia membawa misi perjuangan agar masyarakat Indonesiaberpikiran terbuka terbiasa mendengar hal hal yang sebelumnya tabudiperbincangkan, menjadi tidak sensitif terhadapa unsur SARA, mengakui adanyarealitas kehidupan dan tidak berpura-pura bersembunyi dalam kemunafikan.Justru dengan maksud para penggagas Stand-Up ini apakah Stand-UpComedy Indonesia lantas membawa perubahan yakni berupa menyajikan komedidengan membawa pikiran terbuka sehingga bisa diterima masyarakat Indonesiaatau justru menimbulkan konflik antar budaya bagi masyarakat Indonesia.Terdapat pendapat yang beragam menyikapi hal tersebut yang dipengaruhi olehlatar belakang sosial, pengalaman dalam hidup serta budaya dapat berperanterhadap terciptanya makna yang beragam tentang Stand-Up Comedy denganmateri SARA.PEMBAHASANAudience telah melihat apa yang ditampilkan dalam Stand-Up Comedydengan materi-materi SARA. Dalam komedi ini dikonstruksikan bahwa segalanyamungkin dilakukan untuk menghibur penonton. Mengkritisi kehidupan sosialbermasyarakat, menyindir tentang umat beragama lain, sampai ke arahmengumpat dengan kasar yang ditujukan agama dan etnis tertentu. Komedimenjadi media ampuh mengungkapkan sesuatu baik itu untuk menghibur maupunsebagai penyampaian pesan yang diterima oleh penonton. Audience mungkin akanmemiliki pemaknaan yang kepada serupa dengan apa yang disampaikan comicdalam Stand-Up Comedy ini. Hasil dari latar belakang kultural dan hasil interaksidengan lingkungan mempengaruhi pemaknaan informan.Audience memiliki pemahaman masing-masing dalam memaknai informasi,namun pengetahuan yang mereka terima dan latar belakang kultural yangmempengaruhi hal itu. Barker mengatakan bahwa penonton adalah penciptakreatif makna dalam kaitannya dengan televisi, yang berlaku juga untuk mediayang lain (mereka tidak sekadar menerima begitu saja makna-makna tekstual) danmereka melakukannya berdasarkan kompetensi kultural yang dimiliki sebelumnyayang dibangun dalam konteks bahasa dan relasi sosial (Barker, 2008 : 286).Ketika menyentuh ranah yang sensitif masyarakat dengan begitu mudahbereaksi jika identitas agama atau etnisnya disinggung. Rahardjo mengatakanmasyarakat Indonesia yang multikultur secara demografis maupun sosiologisberpotensial terjadinya konflik, karena masyarakat terbagi ke dalam kelompokkelompokberdasarkan identitas kultural mereka. Menurut Ting-Toomey(1999:30), identitas kultural merupakan perasaan (emotional significance) dariseseorang untuk ikut memiliki atau berafiliasi dengan kultur tertentu. Masyarakatyang terbagi ke dalam kelompok-kelompok itu kemudian melakukan identifikasikultural, yaitu masing masing orang mempertimbangkan diri mereka sebagairepresentasi dari sebuah budaya partikular (Rahardjo, 2005: 2).Di dalam materi Stand-Up Comedy, realitas sosial yang dialami oleh comicyang menuangkan cerita-cerita dalam keseharian dalam setiap materinyakomedinya mempunyai kesamaan terhadap apa yang dialami oleh penontonsehari-hari, namun comic mampu menuangkan perspektif lain sehingga materinyabisa membuat yang melihatnya tertawa. Materi seperti Pandji membawakantentang fakta perilaku umat muslim di Indonesia serta sindirannya terhadaporganisasi masyarakat berkedok agama, Ernest membawa pesan kehidupan etnisCina yang ada di Indonesia, Mongol yang menyindir tentang etnis Batak ataupundi Indonesia timur dan Soleh Solihun tentang sindiranya terhadap homoseksualdan agama Kristen. Melalui materi tersebut audience mempunyai pandangantersendiri apa yang pantas dan tidak pantas yang terpengaruh oleh latar belakangbudayanya. Audience kemudian memaknai isu SARA dalam Stand-Up Comedytersebut yang telah diberi tanda atau signifikansi dalam materi yang dibawakanoleh comic Stand-Up Comedy tersebut.Keempat informan dapat mengidentifikasi adegan yang menggambarkanSARA. Informan mengidentifikasi materi yang menyinggung dan dapatmecederai umat tertentu yang ditampilkan dalam komedi ini melalui sindiran,sarkasme, kritik yang pedas. Adegan Soleh Solihun menyinggung denganmenggunakan agama Kristen dan kaum homoseksual sebagai bahan tertawaan.Kemudian adegan Mongol mengeneralisir bahwa etnis Batak dan yang beragamaKristen yang ada di Indonesia adalah sebagian besar berprofesi sebagai pencopetdan menganggap semua orang batak berwajah seperti bodat (monyet). Ataupunadegan Pandji menampilkan materi tentang perilaku kehidupan umat Islam diIndonesia dengan menyindir khatib-khatib yang ada di mesjid maupun memelintirayat-ayat Alquran sebagai bahan untuk komedi. Informan menganggap semuanyabanyak yang memakai unsur SARA. Adegan Mongol dengan mengeneralisir etnisBatak sebagai pencopet oleh informan 4 dianggap sebagai tindakanmengeneralisir yang tidak disertai dengan bukti yang empiris. Menurut (Helitzer,2005: 63), humor adalah suatu kecaman atau kritik, yang terselubung sebagaihiburan, dan diarahkan kepada target yang spesifik. Ia berpendapat humor harusterdiri dari kebenaran dan sesuatu yang dibesar-besarkan atau dilebih-lebihkan.Tanggapan mengenai memakai isu SARA dalam Stand-Up Comedydipandang oleh informan sebagai sesuatu yang bagus karena bisa mendapatkanperspektif baru dalam memaknai humor dan keadaan realitas sosial yang terjadi.Dengan menyinggung SARA audience mendapat perspektif baru tentang apayang dirasakan oleh etnis lain sehingga bisa memahami dan saling menghargai.Stand-Up Comedy sebagai budaya Barat yang hadir di Indonesia tentunya masihmenyisakan adat-adat yang masih belum bisa diterima oleh masyarakat. Informanmasih terjebak dalam stereotyping yang berlaku di masyarakat, Stand-Up Comedyselain harus beradaptasi dengan budaya di Indonesia juga harus mengetahuibatasan-batasan agar tidak menyimpang dari tradisi masyarakat Indonesia. Olehinforman 2 dipandang sebagai sesuatu yang harus dipikirkan matang-matangjangan sampai materi tersebut menimbulkan kecaman. Menurut (Blake, 2005:13),komedi mempunyai 2 fungsi yaitu (1) untuk mengejek, sebuah parodi untukmenyindir kesombongan, sebuah cara melepaskan emosi. (2) sesuatu untukmembuatnya lebih kreatif, bagaimana informan memandang materi dalam Stand-Up Comedy adalah hasil dari pengamatan comic dan dibawakannya secara kreatifsebagai bahan untuk menghibur.Para informan menganggap munculnya Stand-Up Comedy di Indonesiaadalah suatu warna baru yang memberikan masyarakat hiburan karena mungkinbosan dengan komedi yang sudah ada di Indonesia. Informan lainnya berpendapatharus disesuaikan dengan adat ketimuran, dan melihat konteks Indonesia sebagaisebuah negara yang multietnis dipandang masih dinilai sebagai suatu negara yangsensitif apabila menerima hal baru yang tidak sesuai dengan kepercayaannya.Abdullah berpendapat ciri-ciri yang berbeda dapat saja kemudian tidakdinilai sebagai faktor pembeda yang memisahkan satu etnis dengan etnis laintetapi diangggap seagai variasi yang memperkaya lingkungan sosial mereka.Pengayaan-pengayaan akan terjadi pada saat penyerapan bentuk-bentuk ekspresisatu etnis diadopsi oleh etnis lainnya yang seringkali dipakai dalam kehidupansehari-hari sebagai bagian dari ekspresi seseorang atau sekelompok orang. Prosessemacam ini memiliki potensi di dalam pembauran antaretnis dalam lingkungansosial tertentu. Ruang-ruang publik yang tersedia dalam bentuk memungkinkankomunikasi budaya berlangsung dengan baik (Abdullah, 2007: 88).Dalam memakai materi SARA dalam komedi ada batasan-batasan yangdikemukakan oleh para informan dalam penelitian ini. Batasan-batasan terbentukkarena pengalaman proses sosial yang dialami oleh informan semasa hidupnyadan latar belakang budaya yang dibawa semasa kecil. Informan berpendapat tidaksemua bisa dijadikan bahan komedi, maka ketika menyinggung SARA, makayang disinggung adalah seseorang, atau etnis yang secara fisik dan mental tidakmempunyai kekurangan, namun lebih ditujukan kepada segala perilakunya bukanmenyinggung tentang fisik. Oleh informan 1 orang cacat fisik dan cacat mentaladalah orang yang tidak pantas dijadikan bahan komedi karena orang-orangseperti itu dianggap lemah sehingga tidak pantas apabila dijadikan bahan.Informan 4 menganggap adegan atau materi yang vulgar atau sarkas tidakdikonsumsi oleh anak dibawah umur, sehingga harus pintar menempatkan waktu.Stand-Up Comedy dengan materi SARA bukan hanya memiliki nilaipositif, namun menimbulkan dampak pada audience yang memandang berbeda,seiring jalannya waktu terdapat nilai negatif yang akan muncul. Informanmenganggap banyak sekali pertentangannya karena nilai-nilai kebanggan terhadapsukunya masih mendarah daging, informan lainnya berpendapat bahwa dampakkepada comicnya sendiri karena comic mencerminkan sebagai seseorang yangmempresentasikan etnisnya menyinggung etnis lain. Menurut informan 4 apabilaStand-Up Comedy dibawakan di daerahnya yaitu Ambon maka yang terjadiadalah pelemparan batu. Etnis Ambon masih begitu kental rasaeksklusivitasannya.Dibalik semua kontroversi dan perdebatan yang terjadi, walaupun Stand-Up Comedy menggunakan materi yang sensitif, Informan mengakui di dalamkomedi ini mempunyai nilai edukasi selain sebagai menghibur masyarakat.Diantaranya oleh informan 1 menganggap Stand-Up Comedy adalah kegitanmendidik dengan menghibur, di dalamnya terdapat pandangan baru agar terlepasdari fanatisme yang berlebihan, kemudian juga etnis atau agama yang ada diIndonesia menghilangkan batasan yang dibuat sendiri dan agar memahami danmenghargai keanekaragaman yang ada bukan hanya mengakui. Informan 3mengakui bahwa materi dalam Stand-Up Comedy sesuai dengan realitas terjadidekat dengan kebenaran yang ada sehingga dibuat sebagai pencerahan. Menurut(Abdullah, 2007: 170), penerimaan dan pengesahan terhadap nilai yang berbedatidak hanya mengubah tata nilai, tetapi juga memiliki dampak yang luas dalampemaknaan sosial.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media. Konsepaudience dalam penelitian ini berdasar pada konsep studi resepsi, menurut IenAng (dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds.], 1990: 160-162) Khalayak dianggap sebagai producer of meaning, bukan hanya sebagaikonsumen dari isi media. Khalayak memaknai dan menginterpretasi teks mediasesuai dengan kondisi sosial dan keadaan budaya mereka dan juga dipengaruhioleh pengalaman pribadinya. Dalam menanggapi Stand-Up Comedy denganmateri SARA, informan menanggapi secara beragam tentang makna dibalik itusemua.PENUTUPProses identifikasi yang dilakukan oleh masing-masing informanmenunjukkan mereka semua terbuka pada perbedaan identitas etnis atau agama disekitarnya. Semua informan menganggap isu perbedaan identitas SARA sebagaisesuatu yang wajar dan menjadi ciri khas yang dimiliki Indonesia, namun masihbelum dipahami secara nyata dan belum menemukan potensinya maksimalnya.Pengalaman dan pengetahuan yang berbeda membuat informan memaknaiSARA dalam Stand-Up Comedy Indonesia secara beragam. Sebebas apapuninforman dalam menanggapi SARA dalam Stand-Up Comedy, mereka masihberpendapat terjebak pada stereotipe norma atau budaya yang berlaku diIndonesia.Semua informan menganggap komedi di masa depan harus memiliki nilaiedukasi sehingga mempunyai makna kedepannya. Munculnya Stand-Up Comedymembawa arti penting perkembangan industri hiburan. Indonesia penuh denganpermasalahan yang kompleks sehingga butuh hiburan yang mempunyai ciri khastertentu.DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ang, Ien. 1990. The Nature of the Audience. Dalam Downing, John, AliMohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi [eds]. QuestioningThe Media: A Critical Introduction. California: SAGE PublicationInc.Barker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi Wacana.Blake, Marc.2005. How to be a Comedy Writer. Great Britain:Summersdale Publishers Ltd.Helitzer, Melvin. 2005.Comedy Writing Secrets. Ohio: F+W Publications,Inc.Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.