Representasi Fatherhood dalam Majalah Ayahbunda

Elly Manika Maya Mahadi, Dr. Hapsari Dwiningtyas, S.Sos, MA

Abstract


Majalah Ayahbunda mencoba untuk tidak hanya merujuk pada ibu dalam merepresentasikan pengasuhan anak, namun untuk memberikan porsi yang benarbenar berimbang kepada ibu dan ayah tidak mudah karena kuatnya domestifikasi ibu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan representasi fatherhood dalam Majalah Ayahbunda, serta mitos-mitos patriarki apa saja yang dilawan dan yang tetap dipertahankan dalam representasi tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Gender Role dan Representasi Media. Penelitian ini mengkaji tandatanda, teks, dan gambar pada Rubrik Ayah dan Untuk Ayah Majalah Ayahbunda edisi 2 November 2015 sampai 6 Maret 2016. Penelitian dilakukan dengan menyeleksi tanda-tanda sesuai 4 elemen fatherhood (Townsend), yaitu: intimacy, provision, protection, dan endowment, selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis Semiotika (Barthes) yang menggunakan analisis denotatif, konotatif, dan mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan representasi fatherhood dalam Majalah Ayahbunda adalah ayah yang supportive. Ayah direpresentasikan sebagai pendukung ibu dalam mengasuh anak karena Majalah Ayahbunda mengakui adanya ibu yang bekerja dan membutuhkan bantuan Ayah di ranah domestik, serta ada hal-hal yang tidak dapat ayah gantikan dari seorang ibu, melainkan hanya dapat mendukung ibu dalam mengasuh anak. Majalah Ayahbunda juga merepresentasikan ayah lebih memperlihatkan sisi femininnya, yaitu lebih sensitive. Ayah direpresentasikan lebih sensitif, ekspresif, dan perlu mengungkapkan perasaannya, sehingga hubungan ayah dan anak lebih emosional. Proteksi yang diberikan pun termasuk secara emosional. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran makna maskulinitas, dari tidak sensitif menjadi lebih sensitif. Meskipun sisi feminin lebih terlihat, namun maskulinitas tetap menjadi hal yang penting bagi ayah, sehingga dalam representasi fatherhood, Majalah Ayahbunda merepresentasikan ayah tetap maskulin meskipun mengasuh anak. Sementara itu, mitos-mitos patriarki yang masih dipertahankan dalam representasi tersebut, antara lain: pembagian peran laki-laki dan perempuan, adanya perbedaan ranah publik dan domestik, serta kecenderungan sifat maskulin dan feminin. Mitosmitos ini sulit dilawan dan masih dipertahankan karena nilai-nilai patriarki diajarkan secara turun temurun dalam keluarga dan dianggap alamiah. Sementara itu, mitosmitos patriarki yang coba dilawan antara lain: mitos-mitos patriarki yang menempatkan sosok ayah jauh dari anak terutama secara emosional, batasan peran ayah hanya di ranah publik, dan sifat maskulin yang dianggap tidak sesuai dengan urusan mengasuh anak dan ranah domestik. Mitos-mitos ini dapat dilawan karena adanya perubahan sosial ekonomi di mana perempuan turut bekerja sehingga waktu untuk mengurus pekerjaan domestik berkurang dan menambah peran ayah untuk melengkapi peran yang tidak dilakukan para ibu dengan maksimal di ranah domestik

Keywords


semiotika, representasi, fatherhood, patriarki, mitos

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung