PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BULUTANGKIS DI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK

*juwita oktaviani - 
eddy indarto - 
satrio nugroho - 
Published: 1 Oct 2014.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 21 67
Abstract

Olahraga termasuk salah satu bidang yang dapat menaikkan citra bangsa di mata dunia, salah
satunya Bulutangkis. Kepopuleran olahraga ini dimulai ketika Indonesia berhasil menorehkan tinta
emasnya di kejuaraan-kejuaraan olahraga dunia di era tahun 80-an. Dan sampai sekarang, dengan
kemenangan atlet Indonesia di ajang Yonex All England Open Badminton Championship 2014,
menjadi bukti bahwa PBSI mampu menjaga kejayaan dunia perbulutangkisan. Namun, membina
atlet menjadi pemain Pofesional membutuhkan penggojlokan seperti di Pusdiklat, dan kebetulan
Semarang tidak mempunyai Pusat Pelatihan, sehingga sulit bersaing dengan daerah lain.
Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang Bulutangkis, pengertian dan standar-
standar mengenai GOR Bulutangkis, serta studi banding beberapa Pusdiklat yang telah ada.
Dilakukan juga tinjauan mengenai Kota Semarang, perkembangan Pusdiklat di kota tersebut, serta
program-program pemerintah yang mendukungnya. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan
dengan penekanan desain Arsitektur Bioklimatik dengan konsep Taman oleh Garret Eckbo sebagai
acuan yang dipilih dalam mengembangkan Pusdiklat Bulutangkis ini. Selain itu dilakukan pendekatan
fungsional, kinerja, teknis, dan konstekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 2 alternatif lokasi
dengan menggunakan matriks pembobotan.
Sebagai kesimpulan, luaran program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi
dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain.

Article Metrics: