PANTI WREDHA DI KOTA SEMARANG

*Busada Eka Kristi Pratiwi - 
Atiek Budiarto - 
Titin Woro Murtini - 
Published: 31 Dec 2012.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 61 81
Abstract


Proses lahir, tumbuh dan berkembang lalu menjadi tua merupakan sebuah proses yang dialami oleh semua manusia. Proses perkembangan itu akan diiringi pula oleh perubahan-perubahan. Proses perkembangan menjadi tua,akan diiringi dengan kemunduran-kemunduran kondisi fisik tubuh, yang berdampak pada menurunnya fungsi organ tubuh dan berubahnya kegiatan sehari-hari. Karena kekurangan ini, lansia seseorang yang telah mencapai umur (60+) termasuk dalam golongan manusia yang memiliki kemampuan yang berbeda. Karena lansia memiliki kemampuan yang berbeda, maka kebutuhan lansia berbeda pula dengan manusia normal lainnya.
Pola kehidupan masyarakat kota yang modern, banyaknya jumlah lansia yang ada di Kota Semarang, keterbatasan fisik lansia dan kurangnya fasilitas yang ada ini sudah selayaknya mendapat perhatian khusus.
Kajian diawali dengan mempelajari pengertian tentang lansia, pengelompokkan lansia, prinsip desain ruang untuk lansia, pengertian panti wredha, fungsi dan peran panti wredha, jenis ruang panti wredha, serta psikologi ruang panti wredha. Pendekatan perancangan arsitektural dilakukan dengan konsep Arsitektur Tropis dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip Universal Design. Selain itu dilakukan pendekatan fungsional, kinerja, teknis, dan kontekstual. Pemilihan tapak dilakukan pada 3 alternatif lokasi dengan menggunakan matriks pembobotan.
Sebagai kesimpulan, terdapat luasan program ruang yang diperlukan, serta gambar-gambar 2 dimensi dan 3 dimensi sebagai ilustrasi desain

Keywords
Lansia, Panti Wredha, Semarang, Universal Design, Arsitektur Tropis.

Article Metrics: