Kota-kota besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang merupakan Kota yang terus berkembang karena adanya pembangunan seperti jalan tol, pemukiman, perkantoran dan jalan raya. Perkembangan kawasan urban di Kota-kota besar berdampak pada peningkatan pertumbuhan kota-kota kecil disekitarnya (wilayah perifer). Kabupaten Semarang sebagai wilayah perifer atau penyangga dari kota besar yaitu Kota Semarang, berdampak pada berkembangnya Kota Ungaran dan meningkatnya perkembangan kepadatan lahan terbangun. Pengukuran kepadatan lahan terbangun dalam skala Kota jika dilakukan secara manual memerlukan waktu dan biaya yang besar, oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh yaitu dengan teknik interpretasi hibrida menggunakan indeks NDBI (Normalized Difference Built-up Index) dan Urban Index. Interpretasi hibrida merupakan gabungan dari teknik interpretasi visual dan digital dalam menentukan area lahan terbangun menggunakan citra resolusi menengah yaitu Sentinel 2A yang tersedia secara gratis dan kontinyu. Hasil interpretasi hibrida menggunakan NDBI lebih baik dibandingkan menggunakan urban index dengan overall accuracy sebesar 96.667 % untuk interpretasi hibrida menggunakan NDBI dan 90.00 % untuk interpretasi hibrida menggunakan urban index. Luas kepadatan lahan terbangun di Kota Ungaran Tahun 2016 adalah 1853.571 Ha berubah menjadi 1943.958 Ha pada tahun 2021. Perubahan kepadatan yang paling mendominasi adalah dari kepadatan sedang menjadi tinggi yaitu 602.901 Ha, dan pola lahan terbangun di Kota Ungaran pada tahun 2016 dan 2021 adalah clustered (mengelompok) dengan neraest neighbord ratio 0,7.
Article Metrics:
Last update:
Last update: