Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{JGUndip26108, author = {Ahmad Syifa and Sawitri Subiyanto and Fauzi Amarrohman}, title = {ANALISIS PERKEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP CAKUPAN AIR TANAH DI KOTA SEMARANG}, journal = {Jurnal Geodesi Undip}, volume = {9}, number = {1}, year = {2019}, keywords = {Green Open Space, Groundwater Coverage, Inverse Distance Weighted (IDW), Supervised Classification, Spatial Correlation}, abstract = { ABSTRAK Ruang Terbuka Hijau (RTH) menurut Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun sengaja ditanam. Cakupan air tanah atau keseluruhan Muka Air Tanah (MAT) terkait erat oleh kependudukan di suatu wilayah. Tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk yang tinggi tentunya dapat berimplikasi terhadap akses untuk memperoleh air bersih. Ruang terbuka hijau adalah salah satu faktor yang menjadi konsentrasi atas perubahan kedalaman air tanah dikarenakan RTH mempunyai manfaat salah satunya adalah sebagai daerah resapan air. Penelitian ini menggunakan metode klasifikasi supervised classification untuk melihat perubahan RTH dan non-RTH yaitu daerah terbangun, badan air, jalan dan lahan kosong. Hasil perubahan RTH dan non-RTH dikorelasikan dengan perubahan MAT dengan menggunakan metode pemodelan Inverse Distance Weighted (IDW) yang menghasilkan model perubahan MAT. Korelasi spasial perubahan MAT dan luasan RTH Pada tahun 2016 ke 2019 menunjukkan korelasi sebesar 0,09% untuk tingkat korelasi rendah, 0,18% untuk tingkat korelasi sedang, 0,23% untuk tingkat korelasi tinggi dan 0,29% untuk tingkat korelasi sangat tinggi. Tingkat korelasi perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH memiliki angka persentase total terlalu sedikit yaitu dibawah 5% dari jumlah total luas Kota Semarang, sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH berkorelasi rendah. Kata Kunci : Cakupan Air Tanah, Inverse Distance Weighted (IDW), Korelasi Spasial, Ruang Terbuka Hijau, Supervised Classification ABSTRACT Green Open Space (RTH) according to Semarang City Regional Regulation No. 7 of 2010 concerning the Arrangement of Green Open Space is an elongated area or path and or grouped, the use of which is more open, place to grow plants, both those that grow naturally and intentionally planted. Groundwater coverage or the whole ground water level (MAT) is closely related to population in an area. High growth rates and population densities can certainly have implications for access to clean water. Green open space is one of the factors that is the concentration of changes in groundwater depth because green space has the benefit of one of which is as a water catchment area. This study uses the supervised classification method to see changes in green open space and non-green open space built area, water bodies, roads and vacant land. The results of changes in green space and non-green space are correlated with changes in MAT using the Inverse Distance Weighted (IDW) modeling method that results in a model of MAT changes. Spatial correlation method of overlapping changes in MAT and RTH area In 2016 to 2019 showed a correlations of 0.09% for low correlation, 0.18% for medium correlation, 0.23% for high correlation and 0.29% for very high correlation. The level of correlation of changes in MAT depth with the area of green space has a total percentage of numbers that is too little ie under 5% of the total area of the City of Semarang, so it can be concluded that the change in the depth of MAT with the area of green space correlation level is low . }, issn = {2809-9672}, pages = {96--15} doi = {10.14710/jgundip.2020.26108}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/view/26108} }
Refworks Citation Data :
ABSTRAK
Ruang Terbuka Hijau (RTH) menurut Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun sengaja ditanam. Cakupan air tanah atau keseluruhan Muka Air Tanah (MAT) terkait erat oleh kependudukan di suatu wilayah. Tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk yang tinggi tentunya dapat berimplikasi terhadap akses untuk memperoleh air bersih. Ruang terbuka hijau adalah salah satu faktor yang menjadi konsentrasi atas perubahan kedalaman air tanah dikarenakan RTH mempunyai manfaat salah satunya adalah sebagai daerah resapan air. Penelitian ini menggunakan metode klasifikasi supervised classification untuk melihat perubahan RTH dan non-RTH yaitu daerah terbangun, badan air, jalan dan lahan kosong. Hasil perubahan RTH dan non-RTH dikorelasikan dengan perubahan MAT dengan menggunakan metode pemodelan Inverse Distance Weighted (IDW) yang menghasilkan model perubahan MAT. Korelasi spasial perubahan MAT dan luasan RTH Pada tahun 2016 ke 2019 menunjukkan korelasi sebesar 0,09% untuk tingkat korelasi rendah, 0,18% untuk tingkat korelasi sedang, 0,23% untuk tingkat korelasi tinggi dan 0,29% untuk tingkat korelasi sangat tinggi. Tingkat korelasi perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH memiliki angka persentase total terlalu sedikit yaitu dibawah 5% dari jumlah total luas Kota Semarang, sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan kedalaman MAT dengan luasan RTH berkorelasi rendah.
Kata Kunci : Cakupan Air Tanah, Inverse Distance Weighted (IDW), Korelasi Spasial, Ruang Terbuka Hijau,
Supervised Classification
ABSTRACT
Green Open Space (RTH) according to Semarang City Regional Regulation No. 7 of 2010 concerning the Arrangement of Green Open Space is an elongated area or path and or grouped, the use of which is more open, place to grow plants, both those that grow naturally and intentionally planted. Groundwater coverage or the whole ground water level (MAT) is closely related to population in an area. High growth rates and population densities can certainly have implications for access to clean water. Green open space is one of the factors that is the concentration of changes in groundwater depth because green space has the benefit of one of which is as a water catchment area. This study uses the supervised classification method to see changes in green open space and non-green open space built area, water bodies, roads and vacant land. The results of changes in green space and non-green space are correlated with changes in MAT using the Inverse Distance Weighted (IDW) modeling method that results in a model of MAT changes. Spatial correlation method of overlapping changes in MAT and RTH area In 2016 to 2019 showed a correlations of 0.09% for low correlation, 0.18% for medium correlation, 0.23% for high correlation and 0.29% for very high correlation. The level of correlation of changes in MAT depth with the area of green space has a total percentage of numbers that is too little ie under 5% of the total area of the City of Semarang, so it can be concluded that the change in the depth of MAT with the area of green space correlation level is low.
Article Metrics:
Last update:
View My Stats
Jurnal Geodesi Undip
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro