skip to main content

ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN LAND SUBSIDENCE MENGGUNAKAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) (STUDI KASUS: WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG)

Departemen Teknik Geodesi Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

ABSTRAK

Wilayah pesisir Kota Semarang memiliki garis pantai dengan lebar 2,5 km-10 km. Aktifitas yang terdapat di wilayah pesisir cukup banyak antara lain sebagai pelabuhan, perumahan penduduk, industri, dan lain sebagainya. Hal tersebut memicu turunnya permukaan tanah yang berakibat adanya abrasi dan akresi. Kota Semarang memiliki nilai laju penurunan muka tanah yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, secara umum nilai laju penurunan muka tanah akan semakin besar jika mendekati pantai.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah atau land subsidence yang terjadi di Kota Semarang. Citra yang digunakan dalam penelitian adalah citra Landsat 8 tahun 2013-2019 dengan metode thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai dihitung menggunakan software Digital Shoreline Analysis System (DSAS).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan garis pantai di Kota Semarang mengalami penambahan sebesar 176,28 meter. Kecamatan yang mengalami akresi terbesar adalah Kecamatan Semarang Barat dengan akresi sebesar 483,34 meter, sedangkan kecamatan yang mengalami abrasi terbesar adalah Kecamatan Genuk dengan abrasi sebesar 486 meter. Hubungan perubahan garis pantai dengan penurunan muka tanah di Kota Semarang memiliki korelasi sebesar 0,43852. Hasil korelasi ditinjau berdasarkan tingkat hubungan korelasi termasuk korelasi hubungan yang cukup, sehingga jika perubahan garis pantai semakin mengalami kemunduran (abrasi) maka semakin tinggi nilai land subsidence di wilayah tersebut.

 

Kata kunci: Abrasi, Akresi, Digital Shoreline Analysis System, Garis Pantai, Land Subsidence

 

ABSTRACT

The coastal area of Semarang City has a coastline of 2.5 km-10 km. There are quite a lot of activities in the coastal areas, among others, as a port, residential population, industry, and so on. This triggers land subsidence which results in abrasion and accretion. The city of Semarang has a value of the rate of land subsidence that differs from one place to another, in general the value of the rate of land subsidence will be even greater if it approaches the coast.

This study was conducted to determine the relationship of changes in coastline with land subsidence that occurred in the city of Semarang. The image used in the study is Landsat 8 in 2013-2019 with the thresholding method to extract the coastline. The rate of shoreline change is calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) software.

The results showed that the average change in coastline in the city of Semarang had increased by 176.28 meters. The sub-district that experienced the greatest accretion was the West Semarang sub-district with an accretion of 483.34 meters, while the sub-district that experienced the greatest abrasion was the Genuk sub-district with an abrasion of 486 meters. The relationship of shoreline changes with land subsidence in Semarang City has a correlation of 0.43852. Correlation results are reviewed based on the level of correlation, including sufficient correlation, so that if changes in the coastline experience a decline (abrasion), the higher the value of land subsidence in the region.

Fulltext View|Download
Keywords: Abrasion, Accretion, Digital Shoreline Analysis System, Shorelines, Land Subsidence

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.