PENGAPLIKASIAN PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN ALIRAN PERMUKAAN DALAM PENGENDALIAN PENDANGKALAN WADUK JATIBARANG

*Avini Sekha Rasina  -  Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Bandi Sasmito  -  Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Arwan Putra Wijaya  -  Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 1 Feb 2016.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 258 200
Abstract

ABSTRAK

                Waduk dibuat karena sungai-sungai di Indonesia memiliki kelebihan air saat musim penghujan dan debit sungai sangat kecil saat musim kemarau. Sebagai tempat penampungan air, Waduk Jatibarang mempunyai kapasitas daya tampung air tertentu sementara kapasitas tersebut dapat berubah karena adanya pendangkalan waduk yang disebabkan aktivitas alami maupun antropogenik. Salah satu penyebab pendangkalan waduk karena adanya aliran permukaan yang mengangkut sedimen dari beberapa daerah tangkapan hujan dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) yang terdegradasi.

                Penelitian ini dilakukan melalui pemantauan aliran permukaan dari pemanfaatan data ASTER GDEM versi-2 dan Landsat-8. Pemantauan dilakukan secara berkala terhadap penutupan vegetasi pada catchment area Waduk Jatibarang sebagai faktor utama pengendali degradasi dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan algoritma NDVI.

                Hasil penelitian tugas akhir ini mengenai pola aliran permukaan yang terbentuk dan kondisi daerah tangkapan hujan yang mengacu pada penutupan lahan permanen/ hutan beserta empat kelas kerapatan hutannya yaitu non lebat, lebat, sangat lebat dan ekstra lebat. Berdasarkan analisis, pola aliran permukaan yang terbentuk adalah radial karena arah alirannya mengalir ke segala arah dari puncak gunung dan membentuk beragam sudut. Analisis selanjutnya menunjukan terdapat 14 daerah tangkapan hujan berkondisi buruk dan 2 daerah tangkapan hujan berkondisi baik yaitu daerah tangkapan hujan Kreo 08 dan Kreo 15. Kedua daerah tangkapan hujan tersebut diidentifikasikan berkondisi baik karena persentase hutannya lebih dari 30%. Selain itu, analisis kerapatan hutan menyatakan bahwa daerah tangkapan hujan Waduk Jatibarang memiliki luas hutan yang tergolong lebat (dengan nilai spektral >= 0,6) sebesar 1001,618 Hektar dari total luas hutan 1041,712 Hektar sehingga hutan yang ada telah berperan baik dalam pengendalian pendangkalan Waduk Jatibarang.

Kata Kunci: Aliran Permukaan, Waduk Jatibarang, Daerah Tangkapan Hujan, Hutan

 

ABSTRACT

Reservoir is made because the rivers in Indonesia have too much water during the rainy season and the river debit is less water in the dry season. As the water reservoir, the Jatibarang Reservoir has a limited water capacity while the capacity can change because of the silting reservoir caused by natural and anthropogenic activity. One of the causes of the silting reservoir due to surface runoff carrying sediment from several catchment area in a degraded watershed (DAS).

                This research was done through the monitoring of surface runoff from data utilization of ASTER GDEM version-2 and Landsat-8. The monitoring is done periodically for the landcover in the catchment area of Jatibarang Reservoir as a main factor of controlling the degradation using the method of supervised classification and NDVI algorithms.

                Results of this minithesis are about the pattern of formed surface runoff and condition catchment areas which refer to the permanent landcover/ forest along with four density classes of the forest, those are non-dense, heavy, very heavy and extraordinary heavy. Based on the analysis, formed surface runoff pattern is radial because flowdirection to all directions of mountain top and creating various angles. The next analysis shows that there are 14 catchment areas in critical condition and 2 catchment areas in good condition, those are catchment area on Kreo 08 and 15. Both of catchments are identified to be good condition because their  percentage of  forest are more than 30%. On the other hand, forest density analysis shows that Jatibarang Reservoir’s catchment areas have a relatively dense forest area of 1001.618 hectares of the total forest area of 1041,712 hectares so a relatively dense forest (with a spectral value > = 0,6) so the existing forest has been well in Jatibarang Reservoir siltation control.

Keyword: Surface Runoff, Jatibarang Reservoir, Catchment Area, Forest

*) Penulis, Penanggungjawab

Article Metrics: