CODE MIXING IN C’EST LA VIE NOVEL

Nurul Siskawati

Abstract


Campur kode adalah penggunaan dua bahasa atau lebih oleh penutur dalam suatu tuturan. Campur kode dapat terjadi pada masyarakat atau penutur yang bilingual. Bilingual adalah sebuah kondisi dimana masyarakat atau penutur telah terbiasa dapat menggunakan dua bahasa atau lebih dalam tuturannya. Karena banyak ditemukannya penutur yang bilingual pada saat ini, banyak pula hasil karya para penulis yang menggunakan fenomena campur kode ini di dalam karya mereka. Dalam penelitian ini, penulis meneliti fenomena campur kode pada novel C’est La Vie karya Fanny Hartanti. Penulis membatasi penelitiannya hanya pada tiga tokoh utama di novel ini, yaitu, Amara, Ayu, dan Karina. Karena ketiga tokoh ini berasal dari latar belakang budaya dan pendidikan yang berbeda maka mereka menggunakan fenomena campur kode tersebut untuk saling berkomunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis campur kode dan faktor yang mendorong tiga tokoh utama tersebut menggunakan campur kode dalam interaksi mereka. Dalam penelitiannya, penulis menggunakan metode Simak Bebas Libat Cakap dimana penulis tidak terlibat langsung dalam percakapan tokoh di dalam novel dan teknik catat dimana penulis mencatat percakapan tokoh yang terdapat fenomena campur kode di dalamnya. Untuk analisis data, penulis menggunakan metode deskriptif-kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan terjadinya peristiwa campur kode yg meliputi jenis campur kode dan faktor yang mendukung terjadinya campur kode. Dalam novel ini, semua tokoh utamanya menggunakan bahasa Indonesia. Selain menggunakan bahasa utama tersebut, mereka juga menggunakan bahasa Jawa, Sunda, and Betawi serta mereka sering juga mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan sedikit Perancis. Dari hasil penelitian, penulis menemukan enam wujud campur kode yang terjadi dalam pernyataan dan percakapan di dalam novel ini, yaitu, word insertion, phrase insertion, repetition insertion, idiom insertion, dan baster insertion. Terdapat pula dua jenis campur kode, yaitu, campur kode ke dalam dan campur kode keluar. Sedangkan faktor yang mendorong para tokoh tersebut menggunakan campur kode adalah berasal dari dalam dan luar. Faktor yang berasal dari dalam antara lain, low frequency words, pernicious homonymy, dan synonym. Sedangkan faktor yang berasal dari luar antara lain, the development and knowledge of a new culture, social value, dan oversight.

Full Text:

Full Text.pdf

Refbacks

  • There are currently no refbacks.