1Mahasiswa Program doktoral Ilmu Pendidikan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
2Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Proklamasi 45, Indonesia
3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES) Babussalam, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{EMPATI55286, author = {Muhammad Syawaludin and Iqbal Alfarisyi and Nur Alfiyani}, title = {PARADOKS MASKULINITAS: PERSEPSI MAHASISWA YOGYAKARTA TERHADAP NORMALISASI PELECEHAN SEKSUAL DAN PELABELAN FEMININ PADA KORBAN PRIA YANG MENYUARAKAN PENOLAKAN}, journal = {Jurnal EMPATI}, volume = {15}, number = {03}, year = {2026}, keywords = {masculinity; sexual harassment; labeling feminine}, abstract = { Pelecehan seksual terhadap laki-laki seringkali dianggap sepele karena pengaruh kuat maskulinitas hegemonik, yang mengharuskan laki-laki untuk selalu kuat, dominan, dan menahan diri dari menunjukkan kerentanan. Studi ini bertujuan untuk meneliti persepsi normalisasi pelecehan seksual terhadap laki-laki sebagai korban dan menganalisis bagaimana gender memengaruhi pelabelan feminitas terhadap laki-laki yang mengekspresikan perlawanan. Studi ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional melalui survei yang melibatkan 156 mahasiswa di Yogyakarta. Instrumen pengukuran dikembangkan berdasarkan indikator dari Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan Laki-laki dan Skala Konflik Peran Gender. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Mann–Whitney U, dan regresi logistik biner. Hasil menunjukkan bahwa 50,6% mahasiswa menganggap pelecehan seksual terhadap laki-laki sebagai kejadian normal. Lebih lanjut, normalisasi ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pelabelan feminitas, dengan nilai signifikansi 0,032 < 0,05 (B = 0,800; Wald = 4,597; p = 0,032). Temuan ini menunjukkan bahwa normalisasi pelecehan seksual dan pelabelan feminin adalah hasil dari maskulinitas hegemonik yang berfungsi untuk membungkam korban laki-laki dan memperkuat stigma gender. }, issn = {2829-1859}, pages = {294--308} doi = {10.14710/empati.2026.55286}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/55286} }
Refworks Citation Data :
Pelecehan seksual terhadap laki-laki seringkali dianggap sepele karena pengaruh kuat maskulinitas hegemonik, yang mengharuskan laki-laki untuk selalu kuat, dominan, dan menahan diri dari menunjukkan kerentanan. Studi ini bertujuan untuk meneliti persepsi normalisasi pelecehan seksual terhadap laki-laki sebagai korban dan menganalisis bagaimana gender memengaruhi pelabelan feminitas terhadap laki-laki yang mengekspresikan perlawanan. Studi ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional melalui survei yang melibatkan 156 mahasiswa di Yogyakarta. Instrumen pengukuran dikembangkan berdasarkan indikator dari Skala Penerimaan Mitos Pemerkosaan Laki-laki dan Skala Konflik Peran Gender. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Mann–Whitney U, dan regresi logistik biner. Hasil menunjukkan bahwa 50,6% mahasiswa menganggap pelecehan seksual terhadap laki-laki sebagai kejadian normal. Lebih lanjut, normalisasi ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pelabelan feminitas, dengan nilai signifikansi 0,032 < 0,05 (B = 0,800; Wald = 4,597; p = 0,032). Temuan ini menunjukkan bahwa normalisasi pelecehan seksual dan pelabelan feminin adalah hasil dari maskulinitas hegemonik yang berfungsi untuk membungkam korban laki-laki dan memperkuat stigma gender.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
The authors who publish in the Jurnal Empati retain full copyright ownership (Copyright@Author) of their work. In keeping with the journal’s commitment to open access, all articles are published under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).
Jurnal EMPATI published by Faculty of Psychology, Diponegoro University