skip to main content

INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS MENGENAI PENGALAMAN MANTAN WARGA BINAAN DENGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia

Open Access Copyright 2021 Jurnal EMPATI under http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Seorang mantan Warga Binaan (WB) yang telah keluar dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) perlu melakukan penyesuaian dirinya untuk bisa kembali berbaur di tengah masyarakat. Begitupula secara spesifik mantan WB dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman mantan WB dengan HIV setelah keluar Lapas sekaligus mencari tahu bagaimana penyesuaian diri yang mereka lalui hingga saat ini. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari tiga orang yang merupakan mantan WB dengan status positif HIV selama di dalam Lapas hingga keluar Lapas dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling.  Metode wawancara dilakukan menggunakan metode semi-terstruktur yang kemudian hasil wawancara dianalisis menggunakan metode interpretative phenomenological analysis. Pada penelitian ini terdapat delapan tema superordinat, yaitu (1) pemahaman mantan WB dengan HIV terhadap stigma masyarakat, (2) penutupan diri, (3) pengabaian terapi ARV di dalam Lapas, (4) penolakan hasil diagnosis, (5) pengungkapan diri, (6) respon negatif lingkungan, (7) dukungan dari orang terdekat yang signifikan, (8) proses pengobatan. Melalui penelitian ini partisipan menyampaikan pengalaman mereka sebagai mantan WB dengan HIV. Temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi para mantan WB dengan HIV dalam proses penerimaannya dan membuka wawasan bagi berbagai lembaga yang menaungi mantan WB maupun orang dengan HIV.

Fulltext View|Download
Keywords: hiv; mantan warga binaan; penerimaan diri

Article Metrics:

  1. Amalia, R., Sumartini, S., & Sulastri, A. (2018). Gambaran perubahan psikososial dan sistem pendukung pada orang dengan HIV / AIDS ( ODHA ) di Rumah Cemara Gegerkalong Bandung. 77–85. https://doi.org/10.17509/jpki.v4i1.12346
  2. Azani. (2012). Gambaran psychological well-being mantan narapidana. Jurnal Empathy, 1(2)
  3. Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi : psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Raja Grafindo Persada
  4. Burgess-Allen, J., Langlois, M., & Whittaker, P. (2006). The health needs of Former Offender, implications for successful resettlement: A qualitative study. International Journal of Prisoner Health, 2(4), 291–301. https://doi.org/10.1080/17449200601070369
  5. Culbert, G. J. (2014). Violence and the perceived risks of taking antiretroviral therapy in US jails and prisons. International Journal of Prisoner Health, 10(2), 94–110. https://doi.org/10.1108/IJPH-05-2013-0020
  6. Culbert, G. J., Earnshaw, V. A., Wulanyani, N. M. S., Wegman, M. P., Waluyo, A., & Altice, F. L. (2015). Correlates and experiences of HIV stigma in prisoners living with HIV in Indonesia: a mixed-method analysis. Journal of the Association of Nurses in AIDS Care, 26(6), 743–757. https://doi.org/10.1016/j.jana.2015.07.006
  7. Germer, C. K. (2009). The mindful path to self-compassion: Freeing yourself from destructive thoughts and emotions. The Guilford Press
  8. Gorgulu, T., & Erden, G. (2015). Problems, needs and psychological state of ex- convicts : A qualitative study in a Turkish sample. Education Research and Behavioral Sciences, 4(3), 110–124
  9. Gregg, J. (2013). Self-acceptance and chronic illness. In M.E. Bernard (ed.). The strength of self-acceptance: Theory, practice and research (pp. 247–262). Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4614-6806-6
  10. Hurlock, E. B. (2011). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (R. M. Sijabat (ed.); xii). Penerbit Erlangga
  11. Herdiansyah, & Haris. (2012). Metodologi penelitian kualitatis untuk ilmu-ilmu sosial. Salemba Humanika
  12. Istiarti, T., & Widagdo, L. (2009). Faktor-faktor yang melatarbelakangi persepsi penderita terhadap stigma penyakit kusta. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 4(1), 18–24. https://doi.org/10.14710/jpki.4.1.18-24
  13. La Kahija, Y. F. (2017). Penelitian fenomenologis jalan memahami pengalaman hidup. Kanisius
  14. Machid, R. (2013). Bagaimana hidup saya setelah ini? Jurnal Studi Pemuda, 2(1), 63–74. https://doi.org/https://doi.org/10.22146/studipemudaugm.32056
  15. Marni, A., & Yuniawati, R. (2015). Hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan diri pada lansia di Panti Wredha Budhi Dharma Yogyakarta. Empathy, 3(1), 1-7
  16. Najibuddin, M. (2014). Persepsi masyarakat terhadap mantan narapidana di Desa Benua Jingah Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 4(7), 121095
  17. Russell, S., & Seeley, J. (2010). The transition to living with HIV as a chronic condition in rural Uganda: Working to create order and control when on antiretroviral therapy. Social Science and Medicine, 70(3), 375–382
  18. Shaluhiyah, Z., Musthofa, S. B., & Widjanarko, B. (2015). Stigma masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS. Kesmas: National Public Health Journal, 9(4), 333. https://doi.org/10.21109/kesmas.v9i4.740
  19. Simarmata, P. (2017). Pengaruh dukungan sosial terhadap penerimaan diri pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) [Skripsi tidak dipublikasikan]. Universitas Sumatera Utara
  20. Smith, J. A., Flowers, P., & Larkin, M. (2009). Interpretative phenomenological analysistheory, method, and research. Sage Publications
  21. Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing (7th ed.). Elsevier Mosby
  22. Winnick, T. A., & Bodkin, M. (2008). Anticipated stigma and stigma management among those to be labeled “ex-con.” Deviant Behavior, 29(4), 295–333. https://doi.org/10.1080/01639620701588081

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.