skip to main content

REGULASI DIRI PADA MAHASISWA PERANTAUAN DI SURABAYA

Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Indonesia

Received: 24 Nov 2021; Published: 20 Jul 2023.
Open Access Copyright 2023 Jurnal EMPATI
Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya regulasi diri mahasiswa perantau di lingkungan baru yaitu kota Surabaya. Teori yang akan digunakan untuk membahas adalah regulasi diri Bandura yang terdiri dari tiga komponen yaitu self-observation, judgemental process, dan self-reaction. Teori tersebut digunakan untuk menelaah perkembangan regulasi diri para partisipan. Pendekatan yang digunakan studi kasus dengan pengambilan data menggunakan wawancara semiterstruktur. Partisipan yang dilibatkan adalah mahasiswa baru yang berasal dari luar pulau jawa dan telah merantau selama minimal 1 tahun. Partisipan penelitian didapatkan dengan teknik snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa perantau melaksanakan regulasi diri dengan menggunakan pengalaman di lingkungan baru sebagai tolok ukur. Faktor yang mempengaruhi kondisi regulasi diri mahasiswa perantau adalah faktor sosial dan personal. Di sisi lain, mahasiswa perantau mengalami kesulitan dalam melakukan regulasi diri di lingkungan baru yang berdampak secara sosial maupun akademik bagi partisipan. Kesulitan tersebut membuat partisipan menjadi merasa inferior dan apatis hingga berpengaruh pada mood sehingga sulit untuk hidup mandiri. Kondisi tersebut mendorong para mahasiswa perantau untuk melakukan prokrastinasi akademik. Sehingga saran yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu pentingnya membuat strategi regulasi diri dengan membangun jejaring sosial bagi lulusan SMA yang hendak merantau dengan mahasiswa yang sudah berada di lokasi tujuan sebelumnya. Jejaring sosial tersebut membantu adaptasi mahasiswa baru yang merantau dengan memberikan informasi awal terkait kondisi di lapangan. Hal ini dapat meminimalisir gegar budaya dan memberikan bantuan bagi mahasiswa perantau ketika mengalami kesulitan.

Fulltext View|Download
Keywords: Dampak Kesulitan Regulasi Diri; Faktor Regulasi Diri; Mahasiswa Perantau; Regulasi Diri; Strategi Regulasi Diri

Article Metrics:

  1. Aziz, R. (2015). Model perilaku prokastinasi akademik mahasiswa pascasarjana. Journal of Islamic Education, 1(2), 269-295
  2. Aziza, K. (2017, Juli 11). 70 persen penduduk Indonesia di Jawa, tapi tanahnya cuma 6 persen. Kompas. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/11/181303426/70.persen.penduduk.indonesia.di.jawa.tapi.tanahnya.cuma.6.persen
  3. Badan Pusat Statistik. (2010). Peta sebaran penduduk Indonesia: Sensus penduduk 2010. Badan Pusat Statistik
  4. Badan Pusat Statistik. (2015). Penduduk Indonesia: Hasil survei penduduk antar sensus 2015. Badan Pusat Statistik
  5. Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77-101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
  6. Chairani, L. & Subandi, M. A. (2010). Psikologi santri penghafal Al-Qur’an: Peranan regulasi diri. Pustaka Pelajar
  7. Chib, A., Holley, A., & Hua, S. R. M. (2013). International migrant workers’ se of mobile phones to seek social support in Singapore. Information Technologies & International Development, 9(4), 19-34
  8. Elliot, A. J. (1999). Approach and avoidance motivation and achievement goals. Educational Psychologist, 34(3), 169–189. https://doi.org/10.1207/s15326985ep3403_3
  9. Febrianto, A. S. & Darmawanti, I. (2016). Studi kasus penerimaan seorang ayah terhadap anak autis. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 7(1), 50-61. https://doi.org/10.26740/jptt.v7n1.p50-61
  10. Feist, J. & Feist, G. (2013). Teori kepribadian buku 1. Salemba Humanika
  11. Florez, I. R. (2011). Developing young children’s self-regulation through everyday experiences. Dalam Young Children (pp 46-51). National Association for the Education of Young Children
  12. Giddens, A. (1986). The construction of society. University of California Press
  13. Niam, E., K. (2009). Koping terhadap stress pada mahasiswa luar Jawa yang mengalami culture shock di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, 11(1), 69-77. https://doi.org/10.23917/indigenous.v11i1.1615
  14. Rohmatin, Y., & Latipah, E. (2015). Self regulated learning mahasiswa ditinjau dari motif memilih jurusan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 12(1), 95-108. https://doi.org/10.14421/jpai.2015.121-07
  15. Ryan, L. (2011). Transnational relations: Family migration among recent polish migrants in London. International Migration, 49(2), 80-103. https://doi.org/10.1111/j.1468-2435.2010.00618.x
  16. Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental 1. Penerbit Kanisius
  17. Shiraev, E. B., & Levy, D. A., (2012). Psikologi lintas kultural: Pemikiran kritis dan terapan modern (4th ed.). Kencana
  18. Thompson, E. (2009). Mobile phones, communities and social networks among foreign workers in Singapore. Global Networks, 9(3). 359-380. https://doi.org/10.1111/j.1471-0374.2009.00258.x
  19. Willig, C. (2008). Introducing qualitative research in psychology. Open University Press
  20. Wong, F. K. D., He, X. S. dkk (2008). Mental health of migrant workers in China: Prevalence and correlates. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology, 43(6), 483–489. https://doi.org/10.1007/s00127-008-0341-1

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.