skip to main content

HUBUNGAN ANTARA NEGATIVE EMOTIONAL STATE DENGAN RESILIENSI PADA WARGA BINAAN NARKOTIKA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KEDUNGPANE SEMARANG

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Kasus narkotika merupakan kasus terbesar di Indonesia, baik pengguna atau pengedar maupun bandar. Efek penggunaan narkotika dan tinggal di lapas menuntut warga binaan narkotika untuk memiliki kemampuan bertahan dan bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan yang disebut sebagai resiliensi. Kemampuan ini dapat digunakan sebagai upaya pencegahan memburuknya kondisi psikologis warga binaan narkotika berupa negative emotional state (depresi, kecemasan, stres). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara negative emotional state dengan resiliensi pada warga binaan narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane, Semarang. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 880 warga binaan, sebanyak 211 warga binaan diambil untuk sampel penelitian dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari dua skala yaitu DASS 21 (21 aitem dengan α = 0,916) dan Skala Resiliensi (34 aitem dengan α = 0,889). Hasil penelitian dengan analisis korelasional Spearman’s rho menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara negative emotional state dengan resiliensi dengan rxy = -0,308 dan p = 0,000 (p<0,01), artinya semakin rendah negative emotional state pada warga binaan narkotika maka resiliensi semakin tinggi, begitu pula sebaliknya.Temuan unik yang didapat yaitu negative emotional state pada warga binaan narkotika Lapas Kedungpane, Semarang berada pada taraf normal dimana penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan kondisi lapas yang cukup menekan psikologis.Program mapenaling dan detoksifikasi membantu negative emotional state pada warga binaan narkotika berada pada taraf normal.

Fulltext View|Download
Keywords: resiliensi, negative emotional state, warga binaan narkotika

Article Metrics:

  1. Affan, H. (2018, 26 Februari). Mengapa ‘banjir’ narkoba di Indonesia terusmeningkat? BCCIndonesia. Diunduh dari https://www.bcc.com>indonesia
  2. Amriel, R.I. (2008). Psikologi kaum muda pengguna narkoba. Jakarta: SalembaHumanika
  3. Andriawati, S. (2012). Hubungan antara konsep diri dengan kecemasannarapidanamenghadapi masa depan di lembaga pemasyarakatan wanita Malang. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
  4. Ardani, T.A., Rahayu, I.T., & Sholichatun, Y. (2007). Psikologi klinis. Yogjakarta: Penerbit Graha Ilmu
  5. Azzahra, F. (2017). Pengaruh resiliensi terhadap distress psikologi pada mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 5 (1), 80-96. Diunduh dari https://ejournal.umm.ac.id ISSN: 2301-8267
  6. Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung. (2016, 5 Desember). 7 negara pengedar narkoba terbesar di dunia. Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung. Diunduh dari http://lampung.bnn.go.id/wp/2016/12/05/7-negara-pengedar-narkoba-terbesar-di-dunia/
  7. Bangun, N.N. UU nomor 12 tahun 1995 (UU nomor 12 tahun 1995). Diunduh dari https://www.scribd.com/document/367043404/UU-Nomor-12-Tahun-1995-UU-Nomor-12-Tahun-1995#download
  8. Dawood, E., Ghadeer, H.A., Mitsu, R., Almutary, N., &Alenezi, B. (2016). Relationship between test anxiety and academic achievement among undergraduate nursing student. Journal of Education and Practice, 7 (2), 57-65. Diunduh dari https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1089777.pdf
  9. Damanik, E.D. (2014). Pengujian reliabilitas, validitas, analisis aitem, dan pembuatan norma depression, anxiety and stress scale (DASS). Diunduh dari http://eprints.lib.ui.ac.id/15253/1/94859%2DPengujian%20reliabilitas%2DFull%20Text%20(T%2017892).pdf
  10. Devi, R.R.P. (2015). Resiliensi narapidana dewasa di lembaga pemasyarakatan klasIIA Sragen. Naskah Publikasi. Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
  11. Embury, P.S., & Saklosfke, D.H. (2013). Resilience in children, adolescents, and adults-Translating research into practice. New York: Springer
  12. Everall, R.D., Altrows, K.J., & Paulson, B.L. (2006). Creating a future: A study of resilience in suicidal female adolescents. Journal of Counseling & Development, 84(4), 461-470. doi: 10.1002/j.1556-6678.2006.tb00440.x
  13. Fazel, S., & Danesh, J. (2002). Serious mental disorder in 23000 prisoners: A systematic review of 62 surveys. London and England Journal, 359, 545-50. doi: 10.1016/S0140-6736(02)07740-1
  14. Feldman, R.S. (2012). Pengantar psikologi edisi 10. Jakarta: Salemba Humanika
  15. Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Psychological resilience: A review and critique of definitions, concepts, and theory. European Psychologist, 18, 12-23. doi: 10.1027/1016-9040/a000124
  16. Hairina, Y., & Komalasari, S. (2017). Kondisi psikologis narapidana narkotika di lembaga pemasyarakatan narkotika klas II Karang Intan Martapura Kalimantan Selatan. Jurnal Studia Insania, 5 (1), 94-104. doi: 10.18592/jsi.v5i1.1353
  17. Halgin, R.P., & Whitbourne, S.K. (2010). Psikologi abnormal: Perspektif klinis pada gangguan psikologis. Jakarta: Salemba Humanika
  18. Handayani, P.K., & Fitri, M. (2014). Pemetaan problem-problem psikologis narapidana di lapas kelas II A Jember. Insight, 10 (2), 159-171
  19. Iskandar, A.B. (2017). Resiliensi mantan narapidana terhadap penolakan lingkungan. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
  20. King, A.L. (2010). Psikologi umum. Jakarta: Salemba Humanika
  21. Kristianingsih, S.A. (2009). Pemaknaan pemenjaraan pada narapidana narkoba di rumah tahanan (rutan) Salatiga. Jurnal Psikologi Indonesia, 6 (1), 1-15
  22. Lander, I. (2012). Towards the incorporations of forgiveness therapy in healing the complex trauma of parental. Child Adolesn Social Work Journal, 29, 1-19. doi: 10.1007/s10560-011-0248-7
  23. Lewi, N., & Sudarji, S. (2015). Faktor-faktor pendukung kebahagiaan pada empat narapidana wanita di lapas wanita kelas IIA Tangerang. Psibernetika, 8 (2). doi: 10.30813/psibernetika.v8i2.492
  24. Lohner, J., & Konrad, N. (2007). Risk factors for self‐injurious behaviour in custody: Problems of definition and prediction. International Journal of Prisoner Health, 3 (2), 135-161. doi: 10.1080/17449200701321654
  25. Lovibond, P.F., & Lovibond, S.H. (1995). The structure of negative emotional state: Comparison of The Depression Anxiety Stress Scale (DASS) with The Beck Depression and Anxiety Inventories. Behavior Research and Therapy, 33 (3), 335-343. doi: 10.1016/0005-7967(94)00075-U
  26. Maharani, E. (2016, 7 Maret). Kasus narkoba naik 13 persen pada 2015. Republika.co.id. Diunduh dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/03/07/o3n9ev335-kasus-narkoba-naik-13-persen-pada-2015
  27. Movanita, A.N.K. (2016, 28 Desember). Polri: Kejahatan narkotika meningkat 19.62 persen pada 2016. Kompas.com. Diunduh dari https://nasional.kompas.com>2016/12/28
  28. Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene, B. (2006).Psikologi abnormal. Edisi kelima Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
  29. Nur, A.L., & Shanti, L.P. (2011). Kesepian pada narapidana LP Kedungpane Semarang ditinjau dari dukungan sosial keluarga dan status perkawinan. Jurnal Psikologi Universitas Sultan Agung Semarang
  30. Palmer, E.J., & Connelly, R. (2005). Depression, hopelessness, and suicide ideation among vunerable prisoners. Criminal Behavior and Mental Health, 15 (3), 164-70. doi: 10.1002/cbm.4
  31. Panjaitan, F.H., Murhan, A.M., & Purwati. (2014). Kecemasan pada narapidana di lembaga pemasyarakatan narkotika kelas IIA Wayhui Bandar Lampung. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 10 (1), 122-128. Diunduh dari http://www.ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id
  32. Pratama, F.A. (2016). Kesejahteraan psikologis pada narapidana di lembaga pemasyarakatan kelas II A Sragen. Naskah Publikasi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta
  33. Reivich, K., & Shatte, A. (2002). 7 Keys to finding your inner strength and overcoming life’s hurdles: The resilience factor. New York: Broadway Books
  34. Romadoni, A. (2014, 22 Desember). Polri: Kasus narkoba naik 7.12 % pada 2014, modus nikahi WNI. Diunduh dari https://www.liputan6.com>read
  35. Rutter, M. (2007). Resilience, competence, and coping. Child Abuse and Neglected, 31 (3), 205-9. doi: 10.1016/j.chiabu.2007.02.001
  36. Sarafino, E.P., & Smith, T.W. (2011). Health psychology: Biopsychosocial interactions 7nd edition. New York: John Wiley & Sons
  37. Shankar, N.L., & Park, C.L. (2016). Effects of stress on students physical andmental health and academic success. International Journal of School & Educational Psychology, 4 (1), 5-9
  38. Siswati, T.I., & Abdurrohim. (2009). Masa hukuman dan stress pada narapidana. Proyeksi, 4 (2), 95-106 Snyder, C.R., & Lopez, S.J. (2002). Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press
  39. Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
  40. Tugade, M.M., & Fredrickson, B.L. (2002). Positive emotions and emotional intelligence: The wisdom of feelings. New York: Guilford
  41. Tugade, M.M., Fredrickson, B.L., & Barret, L.S. (2004). Psychological resilience and positive emotional granularity: Examining the benefits of positive emotions on coping and health. J Pers, 72 (6), 1161–1190. doi: 10.1111/j.1467-6494.2004.00294.x.Diunduhdarihttps://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1201429/
  42. Utami, R., & Pratiwi, M.M.S. (2011). Tingkat depresi pada narapidana wanita: Studi deskriptif pada narapidana lapas kelas II A Semarang. Jurnal Psikologi, 1 (4), 40-47
  43. Yi, Y., Turney, K., & Wildeman, C. (2016). Mental health among jail and prison inmates. Mental Health and Wellbeing,11 (4), 900-909. doi: 10.1177/1557988316681339

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.