PEMBANGUNAN MODEL KERUANGAN UNTUK IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN EROSI DI WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS: KABUPATEN KULON PROGO)

Rakyan Paksi Nagara, Imam Buchori

Abstract

Erosi dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang merugikan antara lain penurunan kesuburan tanah yang dapat mengurangi produktifitas, bencana kekeringan dan tanah longsor dan kekeringan. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Kulon Progo, seluas 26.093,395 ha atau 45,48% merupakan kawasan rawan kekeringan dan terdapat lebih dari 306 kk yang mengalami kasus kekeringan pada tahun 2012. Sedangkan untuk bencana tanah longsor, seluas 15.726,40 ha atau 27,40% merupakan kawasan rawan longsor dan terjadi 166 kali kasus tanah longsor pada tahun 2012. Dengan adanya latar belakang tersebut, maka studi ini akan membuat mitigasi bencana yang dapat memprediksi persebaran kawasan rawan erosi dengan menggunakan pemodelan. Model yang dikembangkan adalah model matematis RUSLE yang dibuat ke dalam bentuk spasial, dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis. Model tersebut menghasilkan nilai laju erosi pada Kabupaten Kulon Progo adalah 0,456-200,825 ton/ha/tahun. Nilai tersebut terbagi menjadi empat tingkat kerawanan yaitu sangat ringan, ringan, sedang, dan berat. Seluas 36.784,804 ha atau 64,11% merupakan kawasan dengan tingkat erosi ringan dan seluas 1,440 atau 0,0025% merupakan kawasan dengan tingkat erosi berat. Kemudian dilakukan validasi model melalui survey lapangan, dengan hasil kevalidan 89,47%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa permodelan cukup baik dalam menghitung besarnya laju erosi secara spasial. Untuk pengembangan kedepannya perlu adanya updating data seperti data penggunaan lahan yang sifatnya dinamis. Selain itu, penggunaan data DEM dengan perkembangan teknologi yang baru memiliki tingkat resolusi lebih tajam dapat menunjukkan data kelerengan yang lebih detail untuk kedepannya.         

Keywords

mitigasi bencana,erosi,SIG

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.