KEBERADAAN PEMULUNG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MAGELANG (Studi Kasus: Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara)

Kintan Kartika Larasati, Jawoto Sih Setyono

Abstract

Sektor formal di Kota Magelang hanya mampu melayani 70% sampah yang timbul setiap hari. Hal ini memberikan peluang ekonomi bagi kaum marjinal, khususnya pemulung. Penelitian ini dilakukan terhadap 12 pemulung melalui pendekatan kualitatif, dengan studi kasus di Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara.  Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas pemulung di kedua kelurahan ini mendukung dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Pemulung berhasil mengurangi sampah sebesar ±245 kg per hari dan memilah sampah berdasar jenisnya. Sampah yang telah dikumpulkan, lalu dijual pada pengepul, dan didistribusikan ke industri daur ulang sampah. Namun, keberadaan pemulung dalam mengelola sampah kurang diakui oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Magelang. Aktivitas pemulung terlalu dieksploitasi tetapi penghasilannya sangat sedikit. Berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi kerentanan dan ketidaktahanan pemulung secara sosial ekonomi. Hal ini perlu diperbaiki, dan keberadaan pemulung sebaiknya diakui. Salah satu caranya adalah membentuk paguyuban pemulung. Paguyuban tersebut berfungsi untuk mengatur aktivitas pemulung, memudahkan dalam memberi pelatihan pengelolaan sampah, memudahkan akses terhadap fasilitas umum, meningkatkan penghasilan, dan meningkatkan kualitas hidup pemulung. Pola pandang masyarakat terhadap aktivitas pemulung juga perlu dirubah agar keberadaan pemulung lebih diakui.

Keywords

Pemulung;Pengelolaan Sampah Berkelanjutan;Peran Pemulung;Kerentanan Sosial-Ekonomi;Ketahanan Sosial Ekonomi

Full Text:

FULL TEXT

Refbacks

  • There are currently no refbacks.