Simpanan Karbon pada Ekosistem Lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Karimunjawa, Jawa Tengah

*Kiki Pebli Ningrum  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Hadi Endrawati  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Ita Riniatsih  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 20 May 2020; Published: 16 Jul 2020.
Open Access
Citation Format:
Abstract

ABSTRAK : Emisi gas CO2 berkontribusi tinggi terhadap pemanasan global. Karbon merupakan unsur yang berasal dari pengikatan CO2 oleh tumbuhan melalui fotosintesis. Hutan mengalami penurunan sehingga sektor laut perlu di berdayakan. Kemampuan lamun mengikat karbon dikenal sebagai blue carbon. Tujuan penelitian adalah mengetahui estimasi karbon ekosistem lamun di Perairan Alang – Alang dan Perairan Pancuran Pulau Karimunjawa, sehingga dapat mengurangi pemanasan global. Metode penelitian di lapangan yaitu metode SeagrassWatch dan di laboratorium yaitu Metode Loss of Ignition (LOI). Hasil spesies lamun di lokasi penelitian yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan lamun pada Lokasi 1 berkisar 84,00 tgk/m2 – 202,91 tgk/m2 dan pada Lokasi 2 berkisar 105,09 tgk/m2 – 285,09 tgk/m2. Biomassa lamun terbesar pada Lokasi 1 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 1811,38 gbk/m2 dan biomassa lamun terkecil Cymodocea rotundata dengan nilai 25,72 gbk/m2. Biomassa lamun terbesar pada Lokasi 2 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 733,20 gbk/m2 dan biomassa lamun terkecil Halodule uninervis dengan nilai 0,47 gbk/m2. Karbon lamun terbesar pada Lokasi 1 yaitu Enhalus acoroides dengan nilai 35.538,12 gC/m2, dan terkecil Cymodocea rotundata dengan nilai 473,24 gC/m2. Karbon lamun terbesar pada Lokasi 2 yaitu Thalassia hemprichii dengan nilai 14.309,39 gC/m2 dan terkecil Halodule uninervis dengan nilai 5,80 gC/m2. Karbon sedimen pada Lokasi 1 berkisar 1,581 gC/m2 – 1,871 gC/m2 dan Lokasi 2 berkisar 0,841 gC/m2– 1,45 gC/m2. Kandungan terbesar karbon terdapat pada bagian bawah substrat, karena bagian atas substrat karbon mudah hilang oleh faktor lingkungan (gelombang, arus, dan ulah manusia), sedangkan pada bawah substrat karbon terakumulasi baik.

 

ABSTRACT: CO2 contribute high to global warming. Carbon is an element derived from binding of CO2 by plants through photosynthesis. Forests have declined so the marine sector (blue carbon) needs to be priority. The purpose this study was to determine the carbon seagrass ecosystem estimation in Alang - Alang and Pancuran Waters Karimunjawa Island, so can to reduce global warming. The research method in the field is SeagrassWatch method and in the laboratory is Loss of Ignition Method. The results species at location were Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule ovalis, and Halodule uninervis. The density  seagrass  Location  1 is  84.00-202.91 tgk/m2  and Location  2 is 105.09-285.09 tgk/m2. The largest seagrass biomass at Location 1 is Enhalus acoroides with a value 1811.38 gbk/m2 and the smallest  seagrass biomass  Cymodocea rotundata  with a value 25.72 gbk/m2. The largest seagrass biomass at Location 2 is Enhalus acoroides with a value 733.20 gbk/m2 and the smallest seagrass biomass Halodule uninervis with a value 0.47 gbk/m2. The biggest seagrass carbon at Location 1 is Enhalus acoroides with a value 35,538.12 gC/m2, and the smallest Cymodocea rotundata with a value 473.24 gC/m2. The biggest seagrass carbon at Location 2 is Thalassia hemprichii with a value 14,309.39 gC/m2 and the smallest Halodule uninervis with a value 5.80 gC/m2. Sediment carbon at Location 1 1.581-1.871 gC/m2 and Location 2 0.841-1.45 gC/m2. The largest carbon content in bellow substrate, because on above substrate easily lost by environmental factors, while in the bellow substrate carbon accumulates well.
Keywords: Estimasi; Karbon; Ekosistem Lamun; Perairan Alang – Alang; Perairan Pancuran

Article Metrics: